AKHLAK DAN SOPAN SANTUN
TINGKAH LAKU SEORANG RAJA DAN BANGSAWAN
TINGKAH LAKU PENDUDUK SYURGA
(Kata nabi mereka kepada mereka,
"Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut bagi kamu sebagai raja."
Jawab mereka, "Bagaimana), artinya betapa (ia akan menjadi raja, padahal
kami lebih berhak terhadap kerajaan ini daripadanya). Ia bukanlah dari
keturunan raja-raja atau bangsawan dan tidak pula dari keturunan nabi-nabi.
Bahkan ia hanyalah seorang tukang samak atau gembala, (sedangkan ia pun tidak
diberi kekayaan yang mencukupi") yakni yang amat diperlukan untuk membina
atau mendirikan sebuah kerajaan. (Kata nabi) kepada mereka, ("Sesungguhnya
Allah telah memilihnya sebagai rajamu (dan menambahnya pula keluasan) dan
keperkasaan (dalam ilmu dan tubuh"). Memang ketika itu dialah orang Israel
yang paling berilmu, paling gagah dan paling berAkhlak. (Dan Allah memberikan kerajaan-Nya
kepada siapa yang dikehendaki-Nya) suatu pemberian yang tidak seorang pun mampu
untuk menghalanginya. (Dan Allah Maha Luas) karunia-Nya, (lagi Maha Mengetahui)
orang yang lebih patut menerima karunia-Nya itu.
(Al-Baqara - 247)
(Maka Tuhannya menerimanya) menerima
Maryam sebagai nazar dari ibunya (dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya
dengan pendidikan yang baik pula) Di samping pendidikan Akhlaknya, Allah memperhatikan pula pertumbuhan jasmaninya,
hingga dalam sehari besarnya bertambah seakan-akan dalam satu tahun. Ibunya
membawanya kepada para pendeta penjaga Baitulmakdis, lalu katanya,
"Terimalah oleh tuan-tuan anak yang dinazarkan ini."
Berlomba-lombalah mereka untuk menerimanya sebagai anak asuhan, karena ia adalah
putri dari imam mereka. Kata Zakaria, "Aku lebih berhak kepadanya, karena
bibinya tinggal bersamaku." "Tidak," kata mereka, "sebelum
kita mengadakan undian lebih dulu." Mereka yang banyaknya 29 orang itu
pergi ke sungai Yordan dan melemparkan qalam atau anak panah mereka
masing-masing ke dalamnya. Barang siapa yang qalamnya tidak hanyut dan timbul
ke permukaan air, dialah yang lebih berhak menjadi pengasuhnya. Ternyata qalam
Zakaria tidak hanyut dan timbul ke permukaan, hingga Maryam pun menjadi anak
asuhannya, diambilnya dan dibuatkan untuknya sebuah bilik dalam mesjid dengan
mempunyai tangga yang tak boleh dinaiki kecuali olehnya sendiri. Zakaria
membawakannya makanan dan minuman serta alat-alat hiasannya, maka di musim
dingin dijumpai padanya buah-buahan musim panas, dan di musim panas dijumpainya
buah-buahan musim dingin, sebagaimana firman Allah swt. (dan dijadikan-Nya ia
di bawah asuhan Zakaria). Menurut satu qiraat memakai tasydid sehingga berbunyi
'wakaffalahaa' sedangkan dinashabkannya 'Zakariya' itu ada yang panjang ada
pula yang pendek. Yang mendatangkan buah-buahan tersebut adalah Allah swt.
(Setiap Zakaria masuk untuk menemuinya di mihrab) yakni ruangan yang paling
mulia di suatu mesjid (didapatinya makanan di sisinya, katanya, "Hai
Maryam! Dari mana kamu peroleh makanan ini?" Jawabnya) sedangkan ia masih
kecil ("Makanan itu dari Allah) yang didatangkan-Nya bagiku dari
surga." (Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang disukai-Nya
tanpa batas) yakni rezeki yang berlimpah yang diperoleh tanpa risiko dan jerih
payah.
(Al-i'Imran - 37)
(Maka berkat) ma merupakan tambahan
(rahmat dari Allah kamu menjadi lemah lembut) hai Muhammad (kepada mereka)
sehingga kamu hadapi pelanggaran mereka terhadap perintahmu itu dengan sikap
lunak (dan sekiranya kamu bersikap keras) artinya Akhlakmu jelek tidak terpuji (dan berhati kasar)
hingga kamu mengambil tindakan keras terhadap mereka (tentulah mereka akan
menjauhkan diri dari sekelilingmu, maka maafkanlah mereka) atas kesalahan yang
mereka perbuat (dan mintakanlah ampunan bagi mereka) atas kesalahan-kesalahan
itu hingga Kuampuni (serta berundinglah dengan mereka) artinya mintalah
pendapat atau buah pikiran mereka (mengenai urusan itu) yakni urusan peperangan
dan lain-lain demi mengambil hati mereka, dan agar umat meniru sunah dan jejak
langkahmu, maka Rasulullah saw. banyak bermusyawarah dengan mereka. (Kemudian
apabila kamu telah berketetapan hati) untuk melaksanakan apa yang kamu
kehendaki setelah bermusyawarah itu (maka bertawakallah kepada Allah) artinya
percayalah kepada-Nya. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakal) kepada-Nya.
(Al-i'Imran - 159)
(Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian) Kami telah menciptakannya untuk kamu (untuk
menutupi) guna menutupi (auratmu dan pakaian perhiasan) pakaian yang digunakan
sebagai perhiasan. (Dan pakaian takwa) yakni amal saleh dan Akhlak yang baik; dengan dibaca nashab karena diathafkan kepada
lafal libaasan, dan dibaca rafa' sebagai mubtada sedangkan khabarnya ialah
jumlah berikut ini (itulah yang lebih baik. Yang demikian itu adalah sebagian
tanda-tanda kekuasaan Allah) bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan-Nya
(mudah-mudahan mereka selalu ingat) kemudian mau beriman; di dalam jumlah ini
terkandung iltifat atau kata sindiran terhadap mukhathab atau orang yang diajak
bicara.
(Al-A'raf - 26)
(Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam)
seorang penghulu yang menjadi panutan dan di dalam dirinya terkandung semua Akhlak yang baik (lagi patuh) sangat taat (kepada Allah dan
hanif) cenderung kepada agama yang lurus. (Dan sekali-kali dia bukanlah
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.)
(An-Nahl - 120)
(Hai orang-orang yang beriman! Rukuk dan
sujudlah kalian) salatlah kalian (dan sembahlah Rabb kalian) tauhidkanlah Dia
(dan perbuatlah kebaikan) seperti menghubungkan silaturahim dan melakukan Akhlak-Akhlak yang mulia (supaya kalian mendapat
keberuntungan) kalian beruntung karena dapat hidup abadi di surga.
(Al-Hajj - 77)
(Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka
dengan menganugerahkan kepada mereka Akhlak yang tinggi) yaitu (selalu mengingatkan
manusia kepada negeri akhirat) atau alam akhirat; maksudnya mengingatkan
manusia kepada hari akhirat dan menganjurkan mereka untuk beramal baik sebagai
bekal untuk menghadapinya. Menurut suatu qiraat dibaca Bikhaalishati Dzikrad
Daar yaitu dengan dimudhafkan untuk menunjukkan makna Bayan, atau keterangan.
(Sad - 46)
(Allah telah membuat) bagi orang yang
musyrik dan orang yang bertauhid (perumpamaan yaitu seorang laki-laki) lafal
Rajulan ini menjadi Badal dari lafal Matsalan (yang menjadi budak milik
beberapa orang yang berserikat dalam perselisihan) yaitu mereka terlihat di
dalam persengketaan dan Akhlak mereka sangat buruk (dan seorang budak
laki-laki yang menjadi milik penuh) milik sepenuhnya (dari seorang laki-laki
saja; adakah kedua budak itu sama halnya?) lafal Matsalan berkedudukan menjadi
Tamyiz maksudnya, tentu saja tidak sama antara seorang budak yang menjadi milik
suatu kelompok dengan seorang budak yang menjadi milik penuh seorang saja.
Sesungguhnya, budak yang pertama tadi apabila disuruh oleh masing-masing dari
pemilik dirinya secara sekaligus; ia bingung, siapakah yang harus ia layani di
antara mereka. Ini adalah perumpamaan orang yang musyrik sedangkan budak yang
kedua adalah perumpamaan bagi orang yang bertauhid. (Segala puji bagi Allah)
semata (tetapi kebanyakan mereka) penduduk Mekah (tidak mengetahui) azab apakah
yang akan menimpa mereka akibat kemusyrikannya, oleh karena itu mereka berbuat
kemusyrikan.
(Az-Zumar - 29)
(Maka apakah sekiranya) dapat dibaca
`Asaitum atau `Asiitum, di dalam ungkapan ini terkandung ungkapan Iltifat dari
Ghaibah kepada Mukhathab; maksudnya barangkali kalian (jika kalian berpaling)
memalingkan diri dari iman (kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan) maksudnya, kalian akan kembali kepada Akhlak jahiliyah, yaitu gemar mengadakan kerusakan dan
peperangan.
(Muhammad - 22)
(Di dalam surga-surga itu) di kedua surga
dan apa-apa yang ada di dalamnya itu (ada bidadari-bidadari yang baik-baik) Akhlaknya (lagi cantik-cantik) rupanya.
(Ar-Rahman - 70)
(Dan janganlah kamu memberi dengan maksud
memperoleh balasan yang lebih banyak) lafal Tastaktsiru dibaca Rafa'
berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan. Maksudnya, janganlah
kamu memberi sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh balasan yang lebih banyak
dari apa yang telah kamu berikan. Hal ini khusus berlaku hanya bagi Nabi saw.
karena sesungguhnya dia diperintahkan untuk mengerjakan Akhlak-Akhlak yang paling mulia dan pekerti yang paling
baik.
(Al-Muddathth - 6)
No comments:
Post a Comment