Sunday, October 2, 2011

TAKDIR


Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.1)
Takdir dalam agama Islam
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

Dimensi ketuhanan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
  • Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2)
  • Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70)
  • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al Maa'idah / QS. 5:17)
  • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An'am / QS 6:149)
  • Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96)
  • Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat.

[sunting] Dimensi kemanusiaan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
  • Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Ar Ra'd / QS. 13:11)
  • (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al Mulk / QS. 67:2)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (Al-Baqarah / QS. 2:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (Al Kahfi / QS. 18:29)

[sunting] Implikasi Iman kepada Takdir

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.

PUISI tentang TAKDIR adalah PILIHAN


TAKDIR ADALAH PILIHAN
  (Takdir Bukanlah Pemerkosaan =ALLAH tidaklah menganiaya makluknya)

Berbagai jalan yang kita tempuh
Berbagi pilihan yang kita ambil
Pada akhirnya tanpa kita sadari
kita sedang berjalan dijalanNYA yaitu
Di jalan takdirNYA
kita sedang berada dijembatanNYA , jembatan perubahan yaitu di jembatan takdirNYA
kita sedang berada dipintuNYA ,  pintu maaf,  pintu kematian yaitu di Pintu takdir NYA
Dan Takdir adalah
Ibarat sebuah frame film
Sistem Hidup bernegara bagaimanakah yang kalian Pilih ?
Sekenario apa yang ingin kalian ambil ?
Cerita apa yang kalian sukai ?
Tokoh apa yang ingin Kau perankan ?
Dan Akhir Cerita apa yang kalian sukai ?
Pada Akhirnya ..................... !!!
Semua dalam gengamanNYA .............. !!!
DIA Sutradara NYA .......... !!!
Dan Ingatlah ALLAH tidaklah menganiaya hambanya...dalam TAKDIR ITU
Begitu juga dengan takdir yang kalian PILIH
ALLAH sudah menuliskan takdir itu, ada baik dan buruk.

Wahai,Nasehat .........!
Pilihlah, Pilihan yang terbaik untuk dirimu sendiri?
Seperti yang Maha Pencipta MU, memfirmankan dan mewahyukan yaitu.
Memilihkan Sistem Hidup untuk MU
Memilihkan Takdir Hidup Untuk MU
Memilihkan Frame Film Untuk MU (ada Roll Film,Klise Film yang diputar)
Memilihkan Sekenario Untuk MU
Memilihkan Cerita untuk MU
Dan Memilihkan Akhir Cerita untuk MU

Doa’ ku
Ya, Robbi
Limpahkanlah kesejahteraan dan Barokah MU
Kepada Junjungan kami  Nabi Besar Muhammad SAW
Beserta keluarganya dan Sahabat-sahabatnya
Muslimin dan Muslimat
Ya, Robbi
Jadikanlah Negeriku Bersyariaat seperti yang ENGKAU Ridhoi
Seperti Mereka yang telah kau berikan Nikmat dan Karunia
Seperti Takdir yang kau Pilihkan untuk Umat Muhammad MU
seperti  yang kau Wahyukan dalam Firman MU
Seperti yang kau Framekan dalam Al-QURAN MU
Seperti yang kau Ajarkan pada Nabi Muhammad MU

Dan Bukannya Jalan bagi mereka yang telah ENGKAU murkai dan dalam keadaan tersesat
yang tidak menghiraukan memilih Jalan yang ENGKAU firmankan,
yang tidak menghiraukan memilih Sekenario yang ENGKAU firmankan ,
yang tidak menghiraukan memilih Frame Film yang ENGKAU firmankan, 
yang tidak menghiraukan memilih Cerita yang ENGKAU firmankan,
yang tidak menghiraukan memilih Sistem Tuntunan Hidup yang ENGKAU firmankan,

Ya, ALLAH.... ya, ROBBI
Maafkanlah atas segala dosa-dosa kami
Dan Karena ketidak tahuan kami
Yang Lebih Memilih TAKDIR Memetik  dan Memakan Buah yang Engkau Larang (DARI CERITA NABI ADAM) PADAHAL KAU TELAH MEMBERIKAN PILIHAN TAKDIR-TAKDIR YANG LAIN

Lantaran Bujuk Rayu Makhluk yang ENGKAU murkai
Amin .................................................


by:tango70

Anti terhadap Jihad adalah Virus Kufur dan Nifaq

لايؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
"Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga nafsunya mengikuti apa yang apa yang aku bawa"(HR MUttafaqun 'alaih)


Oleh : Abu Asybal Usamah
Segala puji bagi Allah ‘Azza wajalla, Yang menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, Yang memegang ubun-ubun mereka. Tiada kekuatan di alam ini yang mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali atas izin-Nya. Shalawat dan salam senantiasa mengiringi ingatan kita, agar lidah senantiasa basah dengannya, teruntuk bagi junjungan mulia, Muhammad bin Abdullah, istri-istri, keluarganya, para sahabat dan orang-orang yang teguh berjuang menegakkan Dinullah.
Kecintaan terhadap kalimat Allah, kaum mukminin dan din-Nya adalah merupakan salah satu dari syarat kalimat Laa ilaaha illallah. Allah Ta’ala berfirman :
و من الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله و الذين آمنوا أشد حبا لله
“Dan sebagian manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, mereka mencintainya sebagaimana cinta mereka kepda Allah, sedangkan orang beriman sangat cinta kepada Allah”(Qs Al-Baqarah 165)
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
”Ada tiga perkara jika ada pada diri seseorang , ia akan mendapatkan manisnya iman. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalany, mencintai seseorang karena Allah dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka setelah diselamatkan darinya”(HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, jika kita menginginkan iman kita sehat, tidak dikotori dengan hal-hal yang dapat membinasakan iman kita, maka kita mesti mencintai syariat Allah ‘Azza wajalla. Dan menghilangkan rasa benci terhadap syari’at Allah ‘Azza wajalla. Allah Ta’ala berfirman:
ذلك بأنهم كرهوا ما انزل الله فأحبط أعمالهم
“Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah hapuskan amalan mereka”(Qs Muhammad 9)
Ayat diatas menunjukkan bahwa kebencian terhadap apa yang diturunkan oleh Allah adalah merupakan bentuk dari kekufuran atau nifaq. Sebagaimana orang – orang munafiq terdahulu (dan disetiap zaman) amat benci dengan para sahabat dan juga syari’at yang menjadi system yang mengatur madinah dibawah pengawasan Rasulullah SAW. Maka, kejernihan Tauhid seseorang dan kebenaran imannya (shidqul iman) adalah salah satunya mencintai syari’at Allah Subhanahu wata’ala. Allah Jalla fi ‘Ula berfirman tentang orang yang Ia tetapkan Iman kepada mereka:
“Akan tetapi Allah menjadikan kalian cinta pada iman dan mengiasinya dihati kalian. Dan Ia juga menjadilkan kalian benci terhadap kekufuran, kefaiskan dan maksiat”(Qs Al-Hujurat 7)
Benci terhadap jihad adalah ciri kemunafikan Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa benci terhadap syari’at Allah adalah suatu kekufuran dan nifaq yang menghapus Iman dari dada. Bagaimana tidak, sedangkan Jihad adalah puncak dari ubudiyyah seorang hamba kepada Rabbnya. Puncak dari syari’at Islam yang mengayomi syari’at-syari'at lain dan yang mebentengi Dinul Islam dari rongrongan musuh-musuhnya. Agar kalimat Allah tetap berkibar. Maka, Jihad adalah jalan yang membedakan antara orang yang imannya benar dan dusta. Apabila imannya dusta maka dia akan meninggalkan jihad dengan alas an apapun. Sedangkan orang yang teguh imannya, ia akan senantiasa berusaha terus untuk bias ikut andil dalam Jihad fisabilillah. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan dan menyingkap sifat menuafiqin:
“Sesungguhnya yang akan meminta izin (meniggalkan jihad) kepadamu (wahai Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati hati mereka ragu-ragu karena itu mereka selalu bmbang dalam keragu-raguan”(Qs At-Taubah 45)
Sedangkan ayat sebelumnya Allah menegaskan bagaimana sifat orang-orang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla.
“Orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu (wahai Muhammad) untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa ”(Qs At-Taubah 44)
...benci terhadap jihad adalah ciri kemunafikan Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa benci terhadap syari’at Allah adalah suatu kekufuran dan nifaq yang menghapus Iman dari dada...
Allah secara jelas dan gamblang menempatkan sifat keimanan digandengkan dengan Jihad yaitu orang berjihad adalah mereka yang memiliki keimanan. Karena orang beriman tau hakekat jihad dan kedudukakannya, harga surga yang begitu mahal yang hanya bisa dibayar dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan dinullah. Dunia tak berharga baginya, tidak ada yang berharga didalamnya kecuali sesuatu yang diperuntukkan untuk-Nya.
Bahkan salafushshalih, teladan dari ummat, mersa sangat sedih ketika tidak bias berangkat ke medan jihad, menemani Rasulullah merasakan debu yang menjadi saksi dihari kiamat nanti atas perjuangan mereka membela agama Allah, meskipun mereka berhalangan dan uzur. Allah menggambarkan ghirah mereka dalam Al-qur’an:
“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka dating kepadamu, supaya kamu memberikan kendaraan, lalu kamu mengatakan: “Aku tidak memperoleh kendaraan umtuk membawamu”. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran airmata karena sedih, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan”(Qs At-Taubah 92)
“Apakah kalian mengira akan masuk surge sedangkan belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata-nyata sabar”(Qs Ali ‘Imran 142)
“Wahai orang-orang beriman, apakakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu:”berangkatlah (untuk berperang) dijalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti dari akhirat? Padahal keni’matan dunia itu hanya sedikit dibandingkan dengan akhirat ”(Qs At-Taubah 38)
...Karena orang beriman tau hakekat jihad dan kedudukakannya, harga surga yang begitu mahal yang hanya bisa dibayar dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan dinullah...
Tidak berniat jihad terancam menjadi munafiq
Setelah kita melihat bahwa pemaparan diatas bahwa benci terhdap jihd merupakan sesuatu kufuran dan karakter orang munafiqn, maka kita akan lebih terperangah lagi dihapan wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyatakan bahwa orang yang tidak meniatkan untuk berperang membela agama Allah Subhanahu wata’ala. Al-‘Allamah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menukil hadits tentang niat berjihad dalam karya beliau, Bulughul Maram min jam’il adillatil ahkam, diurutan pertama dalam kitab jihad.
“Barangsiapa yang mati sedang ia tidak berperang dan tidak tidak terbetik didalam hatinya untuk berperang, maka ia mati di atas cabang kemunafikan”(HR Muslim)
Bagaimana dia tidak divonis mati diatas cabang kemunafiqan, sedangkan Islam dia biarkan tanpa ada ghirah dihatinya untuk menjada agama Allah ini dan juga kehormatan kaum muslimin, karena hatinya telah condong kepada dunia dan juga perhiasanya. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu takut kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”(Qs At-Taubah 24)
Ketika virus anti jihad menjangkiti ummat
Jika kita mencermati fenomena yang terjadi sekarang, maka kita akan merasakan bahwasanya virus-virus kekufuran dan kemunafiqan ini amat begitu merongrong ummat. Ia tidak memilih-milih siapa yang ia hinggapi. Layaknya penyakit. Ia akan menyerang orang yang jahil, ‘alim, professor, doctor, tukang becak, penjual Koran, wartawan, guru dan siapapun dia. Kalau penyakit fisik masih bias diobati dan bisa ditemukan obatnya.
Tapi kalau terjangkiti virus ini, ia akan sulit keluar kecuali dengan hidayah oleh Allah. Penyakit anti terhadap jihad ini begitu menggerogoti masyarakat muslim. Padahal ia adalah benteng Dinul Islam. Harusnya ummat islam menjadi polisi ndunia yang menjaga perdamaian dibawah naungan Islam.
Tapi mengapa Jihad ini menjadi sesuatu yang dibenci. namun kalau kita berkaca kepada sejarah ummat Islam dan Al-Qur’an, maka kita tidak akan heran. Karena orang-orang munafiq dahulu juga sangat anti dengan jihad. Akan tetapi kaum munafiqin dahulu sempat ikut andil dalam jihad. Namun lebih sering mereka meninggalkan jihad. Dengan berbagai alas an mereka datng memohon-mohon kepada Rasulullah untuk dimintakan ampun kepada Allah.
“Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridho kepada mereka. Tapi jikalau kamu ridho kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridho dengan orang-orang fasik”(Qs At-taubah 96)
“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada mereka): “Berimanlah kalian kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya, niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “biarkanlah kami bersama orang-orang yang duduk”. Mereka rela bersama orang yang tidak berperang, dan dikuncilah hati mereka, maka mereka tidak paham (kebahagian beriman dan berjihad)(Qs At-taubah 86-87)
Begitu banyak karya dan gelar mereka, begitu lihai mereka berorasi. Namun mereka telah dicap oleh Al-Qur’an sebagai orang yang tidak paham. Karena mereka merasa mereka tidak melakukan sesuatu yang berdosa. Apalagi sekarang. Jangankan tidak merasa berdosa, bahkan mereka sekrang merasa benar tidak berjihad, menunaikan fardhu, karena menganggap bahwa makna jihad luas dan bisa memasuki berbagai segmen, dan parahnya menyalahkan serta “menyesat-nyesatkan’ mereka yang telah menegakkan fardhu Jihad fisabilillah dengan jiwa, lisan dan harta mereka.
Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan tentang kondisi orang-orang yang imannya jujur di akhir zaman. Dari Abuu Hurairah –Radhiyallahu ‘anhu- bekata, Rasulullah Saw bersabda:
سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة . قيل : و ما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه يتكلم في أمر العامة
"Akan datang kepada manusia tahu-tahun yang menipu, yang mana didalamnya orang dusta dianggap benar, orang benar dianggap dusta, orang yang berkhianat dipercaya, orang yang amanah dianggap khianat dan Orang-orang ruwaibidhah berbicara. Rasulullah ditanya:”siapakah ruwaibidhah itu?” beliau menjawab:”mereka orang dungu yang berbicara berbicara dalam masalah ummat”.(HR Ibnu Majah)
Ya Allah, begitu terasa kalau sekarang dekat dengan kiamat. Mudah-mudahan kita dihindarkan dari virus ini. Dan memantapkan hati kita diatas jalan yang ditempuh oleh sebaik-baik ummat ini.[voa-islam.com

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...