Thursday, August 18, 2011

168 Anak-anak Pakistan Tewas oleh Serangan Pesawat Tak Berawak AS

LONDON, INGGRIS (voa-islam.com) - Sebuah laporan terbaru menunjukkan serangan pesawat tempur tanpa awak AS telah membunuh hingga 168 anak-anak di Pakistan selama tujuh tahun terakhir.

Penelitian oleh Biro Jurnalisme Investigasi yang berbasis di London tersebut telah menemukan bahwa serangan udara CIA pada sabuk suku Pakistan telah menyebabkan kematian jauh lebih dari yang telah disebutkan sebelumnya.

Laporan itu mengatakan hanya empat persen dari hampir 2.900 orang yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak adalah pejuang Islam.

Biro itu melaporkan CIA telah melakukan 291 serangan pesawat tak berawak di Pakistan sejak 2004 - angka tersebut delapan persen lebih tinggi daripada penelitian sebelumnya.

Lebih dari 80 persen dari semua serangan itu telah dilakukan di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, atau satu serangan setiap empat hari.

Washington mengklaim serangan udara tersebut menargetkan pejuang Islam yang melintasi perbatasan Pakistan ke Afghanistan untuk membantu perjuangan Taliban melawan pasukan asing pimpinan AS.

Namun, penduduk setempat mengatakan warga sipil adalah korban utama dari serangan non-sanksi PBB tersebut, serangan ilegal itu telah mengambil nyawa 10 warga sipil untuk setiap pejuang Islam yang gugur.

Sebuah laporan terbaru oleh Brookings Institution mengatakan serangan ilegal itu telah mengambil nyawa 10 warga sipil untuk setiap pejuang Islam yang gugur.

Islamabad telah berulang kali mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan, menegaskan bahwa serangan itu telah terbukti kontraproduktif dalam pimpinan perang melawan pejuang Islam.

PBB mengatakan serangan pesawat tak berawak yang dioperasikan AS di Pakistan menimbulkan tantangan yang berkembang pada aturan hukum internasional.

Philip Alston, utusan khusus PBB tentang pembunuhan di luar hukum, mengatakan dalam sebuah laporan pada akhir Oktober 2010 bahwa serangan itu merusak aturan yang dirancang untuk melindungi hak hidup.

Alston juga mengatakan ia takut bahwa pembunuhan pesawat tak berawak oleh Badan Intelijen Pusat AS bisa mengembangkan mental "playstation". (st/ptv)

Populasi Muslim Meningkat, Pakar AS Tuding Islam Picu Radikalisasi Eropa

SOFIA (voa-islam.com) – Peningkatan populasi Muslim di kota-kota besar Eropa yang menembus angka 20 persen, membuat para pakar Amerika Serikat (AS) cemburu. Mereka menuding peningkatan signifikan populasi Muslim akan dibarengi dengan peningkatan radikalisasi.
Pakar Keamanan Internasional dan Radikalisasi Islam, Institute Hudson, Washington, Alex Alexiev mengatakan persoalan serius yang dihadapi masyarakat Eropa adalah kehadiran radikalisme di benua biru. Menurutnya, para ahli sepakat kawasan Eropa Barat merupakan lokasi dengan pergerakan radikal Muslim yang tinggi.
“Meski tinggi, kawasan Semenanjung Balkan lebih rentan terhadap radikalisasi. Sebab, pengaruh dari organisasi di Eropa Barat yang dikontrol oleh organisasi radikal sokongan Arab Saudi dan organisasi lain di Mesir seperti Persaudaraan Muslim,” kata dia seperti dikutip dari novinite.com, Senin (15/8/2011).
Alexiev menjelaskan,  dalam sebuah wawancara bersama kantor berita Focus, kondisi itu luput dari perhatian publik lantaran sebagian besar umat Islam berdomisili di Eropa Barat. Sementara, Muslim di daerah pedesaan dan kota kecil sangatlah jarang.
Sebagai contoh saja, Muslim di Marseille mencapai 30 persen dari populasi atau 50 persen dari populasi penduduk berusia 20 tahun. Dapat disimpulkan, kata dia, Marseille tengah mengarah menjadi kota Muslim. “Kondisi serupa terjadi di Amsterdam, Rotterdam, Malmo dan Antwerpen,” kata Alexiev.
Ia juga mencatat bahwa ada sebuah daerah di jantung kota London di mana populasi Muslim di bawah 20 tahun merupakan mayoritas. Fakta ini jelas memperbesar resiko masuknya elemen-elemen radikal.
“Kerusuhan London dalam beberapa hari terakhir melibatkan orang asal Karibia, Afrika-Amerika, dan sejumlah individu dengan jenggot besar dan tidak ada kumis. Sesuatu yang khas dari Islam. Mereka tetap berjanggut, tetapi dalam model kumis pendek,” kata dia.
Menurut Alexiev, komunitas seperti itu gagal beradaptasi dengan budaya Eropa dan enggan berniat untuk berintegrasi. ''Jelas, persoalan itu akan menimbulkan ancaman besar di masa depan,” pungkas dia. [taz/rpb, nov]

Berkah Ramadhan: Ekspatriat Non-Muslim Jeddah Bondong-bondong Belajar Islam

JEDDAH (voa-islam.com) — Ramadhan adalah bulan suci yang sangat istimewa bagi umat Islam. Bagi nonmuslim yang tinggal di Jeddah, Saudi Arabia, Ramadhan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mempelajari kebenaran Islam secara mendalam.
Raju Phillips, seorang ekspatriat non-muslim yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di Jeddah, Arab Saudi, mengatakan selama Ramadhan ini ia sedang belajar Islam dan membaca Al-Quran terjemahan bahasa Inggris. 
“Ini kesempatan yang sangat baik untuk belajar tentang Islam, terutama karena jam kerja saya berkurang selama terjadi perubahan pada Ramadhan,” katanya.
Jedish Nair, ekspatriat non-Muslim asal India, mengatakan ia sangat kagum dengan Ramadhan, dan mencoba belajar lebih banyak tentang Islam.
“Di kota saya di India, tidak ada Muslim. Jadi, saya tidak pernah tahu tentang Ramadhan hingga datang ke Arab Saudi dan melihat puasa umat Islam. Mereka berpuasa dengan sempurna! Saya tidak makan atau minum saat siang, hanya untuk sedikit merasakan puasa. Teman Muslim saya mengundang saya ke acara berbuka puasa, itu sangat bagus,” kata Nair.
Ekspatriat lainnya, konsultan pendidikan Jayachandran KR mengatakan bahwa selama Ramadhan tahun ini, dia selalu mendengarkan khotbah ulama Muslim melalui tayangan televisi.
“Ramadhan bagi saya dan keluarga telah menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya melihatnya sebagai kesempatan yang baik untuk belajar tentang Islam. Banyak pembicara Islam di televisi selama Ramadhan ini. Saya selalu mendengarkan mereka setelah shalat Magrib,” katanya.
Sementara itu Mubeen Pervas, ekspatriat lainnya, mengatakan dia selalu mengundang rekan kerja non-Muslim untuk berbuka puasa. Sebab, ia ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka, dan juga membantu mereka menjadi lebih memahami Islam.
“Ada banyak kesalahpahaman tentang Islam di kalangan non-Muslim. Saya mencoba menghapus itu kapan pun saya bisa. Ketika berbuka puasa, saya mengundang rekan kerja non-Muslim untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka di bulan ini. Dan saya juga menjelaskan kepada mereka mengapa Muslim berpuasa, dan bagaimana puasa membantu kita untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang miskin, “kata Pervas. [taz/pelita, arabnews]

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...