Sunday, October 16, 2011

Puisi Pembelajaran

Bila rindu nikmati rindu..hadirkan itu dlm sholatmu..krna itu suatu anugerah yg memberi hidupmu

Temukan cinta itu dlm sujud dan jihadmu

Krna cinta tertinggi adalah pengorbanan
... jgn kau terapkan pd sang Adam
Krna cinta tertinggi adalah pengorbanan
seharusnya sama kau terapkan pada yg memberi kehidupan.


Karena tak smua org dikabulkan.
Walaupun itu ingini mu.

Krna kamu dlm takdir itu.

Thursday, October 13, 2011

LAUH MAHFUZH

Lauh Mahfuzh (Arab: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali diantaranya adalah dalam surah Az-Zukhruf 43: 4, Qaf 50: 4, An-Naml 27: 75 dan lainnya.

[sunting] Sebutan lain dari Lauh Mahfuzh

Nama lain dari Lauh Mahfuzh berdasarkan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
  • Induk Kitab (أم الكتاب, Ummu al-Kitab),
  • Kitab yang Terpelihara (كِتَابٍ مَّكْنُونٍ , Kitabbim Maknuun).
...pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),...(Al-Waaqi'ah, 56:78)
  • Kitab yang Nyata (كِتَابٍ مُّبِينٍ , Kitabbim Mubiin).
Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (An Naml, 27:75)

[sunting] Gambaran Lauh Mahfuzh

Menurut syariat Islam, Allah telah mencatat segala kejadian-kejadian di dalam Lauh Mahfuzh, dari permulaan zaman sampai akhir zaman. Baik berupa kisah nabi dan rasul, azab yang menimpa suatu kaum, pengetahuan tentang wahyu para nabi dan rasul, tentang penciptaan alam semesta dan lain-lain. Sekalipun jika kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh.
Menurut Tafsir Qurtubi, semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di Luh Mahfuz, bisa saja dihapus/ diubah oleh Allah atau Allah menetapkan sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian yang dapat mengubah takdir yang tertulis dalam Lauh Mahfuz itu hanya doa dan perbuatan baik/ usaha. Nabi Muhammad bersabda: "Tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik".[1]
Lauh Mahfuzh akan kekal selamanya karena ia termasuk makhluk yang abadi, selain Lauh Mahfuzh makhluk abadi ada 'Arsy, surga, neraka dan lain-lain.

[sunting] Para Jin mencuri berita

Allah telah menjadikan Lauh Mahfuzh ini sebagai tempat untuk menyimpan segala rahasia dilangit dan di bumi. Jin dari golongan setan akan berusaha untuk mencuri segala rahasia yang tertulis di dalamnya untuk menipu manusia. Disamping itu, mereka juga memiliki tujuan untuk memainkan aqidah manusia. Sebab itu Allah melarang manusia untuk mengetahui ramalan nasib, karena peramal itu dibantu oleh jin dan jin itu akan membisikkan hasil curian itu kedalam hati peramal. Jika ada setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat penjaga Luh Mahfuzh akan melemparkan bintang ke arah pencuri berita tersebut, pelemparan ini yang kadang-kadang kita lihat dengan adanya bintang jatuh atau meteor.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al Hijr 16 - 18)
Tidak banyak diketahui tentang Lauh Mahfuz dan para ulama jarang menjabarkannya dengan detail, karena ia adalah urusan alam ghaib/ rahasia Allah. Dalam Al-Quran pun, Luh Mahfuz di sebut secara sepintas saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sebagai contohnya dalam satu peristiwa yang amat bersejarah, ahli tafsir menyatakan Luh Mahfuz disebut berkaitan dengan Nuzul Al-Quran dari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah (langit dunia) secara sekaligus yang terjadi dalam bulan Ramadhan.

[sunting] Tulisan pertama di Lauh Mahfuz

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Ketika Allah menciptakan qolam, kemudian lauh, Allah memerintahkan qolam untuk mendatangi lauh.
Allah berfirman kepada qolam, “Wahai qolam”.
Qolam menjawab, “Aku sambut panggilan-Mu dan aku siap menerima perintah-Mu Ya Robbi”
Allah memberi perintah, “Tulislah pertama kali Bismillaahir rohmaanir rohiimi”.
Ketika qolam menulis “ba” keluarlah darinya cahaya yang menyinari segala sesuatu di malakut dari mulai ‘arsy sampai bumi. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi ! Apakah “ba” ini ?”
Allah menjawab, “Ba ini adalah bariun liummati Muhammadin (pembebas untuk umat Muhammad)”
Allah memerintahkan pula qolam menulis “sin”.
Ketika qolam menulisnya, keluarlah dari lekukan-lekukannya beberapa cahaya. Cahaya yang satu memancar ke ‘arsy, yang satu ke kursi dan yang satu ke surga. Ketika qolam melihat ketiga cahaya ini, ia bertanya, “Ilahi, Apakah cahaya-cahaya ini ?”
Allah menjawab, “Ini adalah cahaya umat Muhammad ‘alahissolatu wassalam. Adapun cahaya yang memancar ke ‘arsy adalah cahaya al-sabiqin, cahaya yang memancar ke kursi adalah cahaya al-muqtasidin dan cahaya yang memancar ke surga adalah cahaya al-‘asin dan az-zolimin di antara mereka”.
Allah memerintahkan pula Qolam menulis “mim”.
Ketika qolam menulisnya, keluarlah darinya cahaya yang lebih terang dan lebih bersinar dari cahaya “ba” dan “sin” sehingga menyinari segala se-suatu dari ‘arsy sampai bumi. Terdiamlah qolam dalam ketakjuban seribu tahun. Setelah itu bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah cahaya ini ?”
Allah menjawab, ”Ini adalah Nur Muhammad ‘alaihissolatu wassalam. Dia adalah kekasih-Ku, pilihan-Ku dan rosul-Ku. Ini Sayyid seluruh nabi dan rosul. Dan tidak Aku ciptakan segala sesuatu, kecuali karenanya”.
Ketika Qolam mendengarnya maka berkeinginanlah untuk menyampaikan salam pada Nur Muhammad ‘alahissolatu wassalamu, kemudian meminta idzin melakukannya. Kemudian berkatalah qolam, “Assalamu ‘alaika (salam bagimu) wahai Rosulalloh – wahai Habiballoh dan wahai Nurolloh.
Allah berfirman, “Wahai qolam ! engkau telah menyampaikan salam kepada kekasih dan rosul-Ku padahal ia saat ini tidak ada, sedangkan apabila ia hadir pastilah ia akan menjawab salammu, karena itu Aku jawab padamu karenanya. Bagimu salam dari-Ku wahai qolam”.
Allah memerintahkan qolam menulis Allah Ar-Rohman Ar-Rohim. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah nama-nama ini bagi-Mu ?”
Allah Yang Maha Tinggi menjawab, “Aku – Allah – untuk as-sabiqin, Aku – Ar-Rohman – untuk al-muqtasidin dan Aku – Ar-Rohim – untuk al-‘asin dan az-zolimin”.
Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa As-Sabiqin adalah orang yang kebaikannya amat banyak – jauh melebihi keburukannya. Al-Muqtasidin adalah orang yang kebaikan dan keburukannya berbanding. Al-‘Asin adalah orang yang keburukannya jauh melebihi kebaikan yang dilakukan.

[sunting] Referensi

  1. ^ Hadits riwayat Tirmidzi

[sunting] Pranala luar

Sunday, October 2, 2011

TAKDIR


Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.1)
Takdir dalam agama Islam
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

Dimensi ketuhanan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
  • Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2)
  • Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70)
  • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al Maa'idah / QS. 5:17)
  • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An'am / QS 6:149)
  • Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96)
  • Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat.

[sunting] Dimensi kemanusiaan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
  • Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Ar Ra'd / QS. 13:11)
  • (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al Mulk / QS. 67:2)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (Al-Baqarah / QS. 2:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (Al Kahfi / QS. 18:29)

[sunting] Implikasi Iman kepada Takdir

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.

PUISI tentang TAKDIR adalah PILIHAN


TAKDIR ADALAH PILIHAN
  (Takdir Bukanlah Pemerkosaan =ALLAH tidaklah menganiaya makluknya)

Berbagai jalan yang kita tempuh
Berbagi pilihan yang kita ambil
Pada akhirnya tanpa kita sadari
kita sedang berjalan dijalanNYA yaitu
Di jalan takdirNYA
kita sedang berada dijembatanNYA , jembatan perubahan yaitu di jembatan takdirNYA
kita sedang berada dipintuNYA ,  pintu maaf,  pintu kematian yaitu di Pintu takdir NYA
Dan Takdir adalah
Ibarat sebuah frame film
Sistem Hidup bernegara bagaimanakah yang kalian Pilih ?
Sekenario apa yang ingin kalian ambil ?
Cerita apa yang kalian sukai ?
Tokoh apa yang ingin Kau perankan ?
Dan Akhir Cerita apa yang kalian sukai ?
Pada Akhirnya ..................... !!!
Semua dalam gengamanNYA .............. !!!
DIA Sutradara NYA .......... !!!
Dan Ingatlah ALLAH tidaklah menganiaya hambanya...dalam TAKDIR ITU
Begitu juga dengan takdir yang kalian PILIH
ALLAH sudah menuliskan takdir itu, ada baik dan buruk.

Wahai,Nasehat .........!
Pilihlah, Pilihan yang terbaik untuk dirimu sendiri?
Seperti yang Maha Pencipta MU, memfirmankan dan mewahyukan yaitu.
Memilihkan Sistem Hidup untuk MU
Memilihkan Takdir Hidup Untuk MU
Memilihkan Frame Film Untuk MU (ada Roll Film,Klise Film yang diputar)
Memilihkan Sekenario Untuk MU
Memilihkan Cerita untuk MU
Dan Memilihkan Akhir Cerita untuk MU

Doa’ ku
Ya, Robbi
Limpahkanlah kesejahteraan dan Barokah MU
Kepada Junjungan kami  Nabi Besar Muhammad SAW
Beserta keluarganya dan Sahabat-sahabatnya
Muslimin dan Muslimat
Ya, Robbi
Jadikanlah Negeriku Bersyariaat seperti yang ENGKAU Ridhoi
Seperti Mereka yang telah kau berikan Nikmat dan Karunia
Seperti Takdir yang kau Pilihkan untuk Umat Muhammad MU
seperti  yang kau Wahyukan dalam Firman MU
Seperti yang kau Framekan dalam Al-QURAN MU
Seperti yang kau Ajarkan pada Nabi Muhammad MU

Dan Bukannya Jalan bagi mereka yang telah ENGKAU murkai dan dalam keadaan tersesat
yang tidak menghiraukan memilih Jalan yang ENGKAU firmankan,
yang tidak menghiraukan memilih Sekenario yang ENGKAU firmankan ,
yang tidak menghiraukan memilih Frame Film yang ENGKAU firmankan, 
yang tidak menghiraukan memilih Cerita yang ENGKAU firmankan,
yang tidak menghiraukan memilih Sistem Tuntunan Hidup yang ENGKAU firmankan,

Ya, ALLAH.... ya, ROBBI
Maafkanlah atas segala dosa-dosa kami
Dan Karena ketidak tahuan kami
Yang Lebih Memilih TAKDIR Memetik  dan Memakan Buah yang Engkau Larang (DARI CERITA NABI ADAM) PADAHAL KAU TELAH MEMBERIKAN PILIHAN TAKDIR-TAKDIR YANG LAIN

Lantaran Bujuk Rayu Makhluk yang ENGKAU murkai
Amin .................................................


by:tango70

Anti terhadap Jihad adalah Virus Kufur dan Nifaq

لايؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
"Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga nafsunya mengikuti apa yang apa yang aku bawa"(HR MUttafaqun 'alaih)


Oleh : Abu Asybal Usamah
Segala puji bagi Allah ‘Azza wajalla, Yang menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, Yang memegang ubun-ubun mereka. Tiada kekuatan di alam ini yang mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali atas izin-Nya. Shalawat dan salam senantiasa mengiringi ingatan kita, agar lidah senantiasa basah dengannya, teruntuk bagi junjungan mulia, Muhammad bin Abdullah, istri-istri, keluarganya, para sahabat dan orang-orang yang teguh berjuang menegakkan Dinullah.
Kecintaan terhadap kalimat Allah, kaum mukminin dan din-Nya adalah merupakan salah satu dari syarat kalimat Laa ilaaha illallah. Allah Ta’ala berfirman :
و من الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله و الذين آمنوا أشد حبا لله
“Dan sebagian manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, mereka mencintainya sebagaimana cinta mereka kepda Allah, sedangkan orang beriman sangat cinta kepada Allah”(Qs Al-Baqarah 165)
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
”Ada tiga perkara jika ada pada diri seseorang , ia akan mendapatkan manisnya iman. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalany, mencintai seseorang karena Allah dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka setelah diselamatkan darinya”(HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, jika kita menginginkan iman kita sehat, tidak dikotori dengan hal-hal yang dapat membinasakan iman kita, maka kita mesti mencintai syariat Allah ‘Azza wajalla. Dan menghilangkan rasa benci terhadap syari’at Allah ‘Azza wajalla. Allah Ta’ala berfirman:
ذلك بأنهم كرهوا ما انزل الله فأحبط أعمالهم
“Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah hapuskan amalan mereka”(Qs Muhammad 9)
Ayat diatas menunjukkan bahwa kebencian terhadap apa yang diturunkan oleh Allah adalah merupakan bentuk dari kekufuran atau nifaq. Sebagaimana orang – orang munafiq terdahulu (dan disetiap zaman) amat benci dengan para sahabat dan juga syari’at yang menjadi system yang mengatur madinah dibawah pengawasan Rasulullah SAW. Maka, kejernihan Tauhid seseorang dan kebenaran imannya (shidqul iman) adalah salah satunya mencintai syari’at Allah Subhanahu wata’ala. Allah Jalla fi ‘Ula berfirman tentang orang yang Ia tetapkan Iman kepada mereka:
“Akan tetapi Allah menjadikan kalian cinta pada iman dan mengiasinya dihati kalian. Dan Ia juga menjadilkan kalian benci terhadap kekufuran, kefaiskan dan maksiat”(Qs Al-Hujurat 7)
Benci terhadap jihad adalah ciri kemunafikan Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa benci terhadap syari’at Allah adalah suatu kekufuran dan nifaq yang menghapus Iman dari dada. Bagaimana tidak, sedangkan Jihad adalah puncak dari ubudiyyah seorang hamba kepada Rabbnya. Puncak dari syari’at Islam yang mengayomi syari’at-syari'at lain dan yang mebentengi Dinul Islam dari rongrongan musuh-musuhnya. Agar kalimat Allah tetap berkibar. Maka, Jihad adalah jalan yang membedakan antara orang yang imannya benar dan dusta. Apabila imannya dusta maka dia akan meninggalkan jihad dengan alas an apapun. Sedangkan orang yang teguh imannya, ia akan senantiasa berusaha terus untuk bias ikut andil dalam Jihad fisabilillah. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan dan menyingkap sifat menuafiqin:
“Sesungguhnya yang akan meminta izin (meniggalkan jihad) kepadamu (wahai Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati hati mereka ragu-ragu karena itu mereka selalu bmbang dalam keragu-raguan”(Qs At-Taubah 45)
Sedangkan ayat sebelumnya Allah menegaskan bagaimana sifat orang-orang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla.
“Orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu (wahai Muhammad) untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa ”(Qs At-Taubah 44)
...benci terhadap jihad adalah ciri kemunafikan Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa benci terhadap syari’at Allah adalah suatu kekufuran dan nifaq yang menghapus Iman dari dada...
Allah secara jelas dan gamblang menempatkan sifat keimanan digandengkan dengan Jihad yaitu orang berjihad adalah mereka yang memiliki keimanan. Karena orang beriman tau hakekat jihad dan kedudukakannya, harga surga yang begitu mahal yang hanya bisa dibayar dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan dinullah. Dunia tak berharga baginya, tidak ada yang berharga didalamnya kecuali sesuatu yang diperuntukkan untuk-Nya.
Bahkan salafushshalih, teladan dari ummat, mersa sangat sedih ketika tidak bias berangkat ke medan jihad, menemani Rasulullah merasakan debu yang menjadi saksi dihari kiamat nanti atas perjuangan mereka membela agama Allah, meskipun mereka berhalangan dan uzur. Allah menggambarkan ghirah mereka dalam Al-qur’an:
“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka dating kepadamu, supaya kamu memberikan kendaraan, lalu kamu mengatakan: “Aku tidak memperoleh kendaraan umtuk membawamu”. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran airmata karena sedih, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan”(Qs At-Taubah 92)
“Apakah kalian mengira akan masuk surge sedangkan belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata-nyata sabar”(Qs Ali ‘Imran 142)
“Wahai orang-orang beriman, apakakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu:”berangkatlah (untuk berperang) dijalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti dari akhirat? Padahal keni’matan dunia itu hanya sedikit dibandingkan dengan akhirat ”(Qs At-Taubah 38)
...Karena orang beriman tau hakekat jihad dan kedudukakannya, harga surga yang begitu mahal yang hanya bisa dibayar dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan dinullah...
Tidak berniat jihad terancam menjadi munafiq
Setelah kita melihat bahwa pemaparan diatas bahwa benci terhdap jihd merupakan sesuatu kufuran dan karakter orang munafiqn, maka kita akan lebih terperangah lagi dihapan wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyatakan bahwa orang yang tidak meniatkan untuk berperang membela agama Allah Subhanahu wata’ala. Al-‘Allamah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menukil hadits tentang niat berjihad dalam karya beliau, Bulughul Maram min jam’il adillatil ahkam, diurutan pertama dalam kitab jihad.
“Barangsiapa yang mati sedang ia tidak berperang dan tidak tidak terbetik didalam hatinya untuk berperang, maka ia mati di atas cabang kemunafikan”(HR Muslim)
Bagaimana dia tidak divonis mati diatas cabang kemunafiqan, sedangkan Islam dia biarkan tanpa ada ghirah dihatinya untuk menjada agama Allah ini dan juga kehormatan kaum muslimin, karena hatinya telah condong kepada dunia dan juga perhiasanya. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu takut kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”(Qs At-Taubah 24)
Ketika virus anti jihad menjangkiti ummat
Jika kita mencermati fenomena yang terjadi sekarang, maka kita akan merasakan bahwasanya virus-virus kekufuran dan kemunafiqan ini amat begitu merongrong ummat. Ia tidak memilih-milih siapa yang ia hinggapi. Layaknya penyakit. Ia akan menyerang orang yang jahil, ‘alim, professor, doctor, tukang becak, penjual Koran, wartawan, guru dan siapapun dia. Kalau penyakit fisik masih bias diobati dan bisa ditemukan obatnya.
Tapi kalau terjangkiti virus ini, ia akan sulit keluar kecuali dengan hidayah oleh Allah. Penyakit anti terhadap jihad ini begitu menggerogoti masyarakat muslim. Padahal ia adalah benteng Dinul Islam. Harusnya ummat islam menjadi polisi ndunia yang menjaga perdamaian dibawah naungan Islam.
Tapi mengapa Jihad ini menjadi sesuatu yang dibenci. namun kalau kita berkaca kepada sejarah ummat Islam dan Al-Qur’an, maka kita tidak akan heran. Karena orang-orang munafiq dahulu juga sangat anti dengan jihad. Akan tetapi kaum munafiqin dahulu sempat ikut andil dalam jihad. Namun lebih sering mereka meninggalkan jihad. Dengan berbagai alas an mereka datng memohon-mohon kepada Rasulullah untuk dimintakan ampun kepada Allah.
“Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridho kepada mereka. Tapi jikalau kamu ridho kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridho dengan orang-orang fasik”(Qs At-taubah 96)
“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada mereka): “Berimanlah kalian kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya, niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “biarkanlah kami bersama orang-orang yang duduk”. Mereka rela bersama orang yang tidak berperang, dan dikuncilah hati mereka, maka mereka tidak paham (kebahagian beriman dan berjihad)(Qs At-taubah 86-87)
Begitu banyak karya dan gelar mereka, begitu lihai mereka berorasi. Namun mereka telah dicap oleh Al-Qur’an sebagai orang yang tidak paham. Karena mereka merasa mereka tidak melakukan sesuatu yang berdosa. Apalagi sekarang. Jangankan tidak merasa berdosa, bahkan mereka sekrang merasa benar tidak berjihad, menunaikan fardhu, karena menganggap bahwa makna jihad luas dan bisa memasuki berbagai segmen, dan parahnya menyalahkan serta “menyesat-nyesatkan’ mereka yang telah menegakkan fardhu Jihad fisabilillah dengan jiwa, lisan dan harta mereka.
Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan tentang kondisi orang-orang yang imannya jujur di akhir zaman. Dari Abuu Hurairah –Radhiyallahu ‘anhu- bekata, Rasulullah Saw bersabda:
سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة . قيل : و ما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه يتكلم في أمر العامة
"Akan datang kepada manusia tahu-tahun yang menipu, yang mana didalamnya orang dusta dianggap benar, orang benar dianggap dusta, orang yang berkhianat dipercaya, orang yang amanah dianggap khianat dan Orang-orang ruwaibidhah berbicara. Rasulullah ditanya:”siapakah ruwaibidhah itu?” beliau menjawab:”mereka orang dungu yang berbicara berbicara dalam masalah ummat”.(HR Ibnu Majah)
Ya Allah, begitu terasa kalau sekarang dekat dengan kiamat. Mudah-mudahan kita dihindarkan dari virus ini. Dan memantapkan hati kita diatas jalan yang ditempuh oleh sebaik-baik ummat ini.[voa-islam.com

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...