Friday, August 26, 2011

DNA Firaun Mirip Orang Eropa

Selasa, 02 Agustus 2011 

Hidayatullah.com--Sekitar 7 persen pria Inggris dan separuh dari seluruh pria Eropa Barat berhubungan secara genetis dengan Firaun Tutankhamun, demikian menurut ahli genetik dari Swiss.

Para pakar dari iGENEA di Zurich merekonstruksi DNA raja Mesir yang naik tahta pada usia 9 tahun itu, berikut ayahnya Akhenaten dan kakeknya Amenhotep III.

Hasilnya menunjukkan, DNA Raja Tut -- sebutan akrab raja belia itu -- berada dalam kelompok yang dikenal dengan haplogroup R1b1a2, yang juga dimiliki oleh 50% pria Eropa Barat. Hal itu menunjukkan mereka berasal dari moyang yang sama.

Menurut iGENEA, orang Mesir moderen yang memiliki gen haplogroup sekarang ini jumlahnya kurang dari 1%.

"Sungguh menarik mengetahui bahwa dia (Tut) memiliki gen yang sama dengan kelompok Eropa," kata Roman Scholz, direktur iGENEA.

Sekitar 70% pria Spanyol dan 60% pria Prancis juga memiliki gen dari kelompok haplogroup yang sama dengan raja Mesir yang memerintah lebih dari 3.000 tahun lalu itu.

"Kami menduga moyang yang sama hidup di Kaukasus sekitar 9.500 tahun lalu," kata Scholz kepada Reuters.

iGENEA memperkirakan, migrasi dari haplogroup R1b1a2 ke Eropa dimulai bersama dengan penyebaran pertanian di abad 7000 SM.

Meskipun diketahui gen Tutankhamun mirip orang Eropa, tapi tidak diketahui pasti bagaimana garis keturunan itu diturunkan dan sampai ke Mesir dari tempat asalnya.

Pusat penelitian itu masih terus melakukan tes DNA untuk mencari kerabat terdekat Tutankhamun yang masih hidup.

Temuan ini sebenarnya tidak mengejutkan, karena sebagaimana dikatakan dalam al-Qur`an bahwa manusia di dunia ini berasal dari satu bapak dan satu ibu, yaitu Adam dan Hawa.*
Sumber : rtr/gn

Red: Dija

Negara Gagal Buah Reformasi Mei 1998

HM Aru Syeiff Assadullah
Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam


Rejim Orde Baru di bawah Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun pun akhirnya tumbang  21 Mei 1998 digantikan Rejim Reformasi. Siapa sebenarnya otak di balik penumbangan rejim Soeharto? Sejarah mencatat pasca lengser-keprabonnya Soeharto, telah memunculkan Amien Rais sebagai “Pahlawan Reformasi” dan dielu-elukan rakyat Indonesia. Apakah Amien Rais perancang skenario penumbangan rejim Soeharto?

Duabelas tahun setelah peristiwa jatuhnya Soeharto, kini, Mei 2011, dengan terang benderang bisa dijelaskan bahwa Amien Rais bukanlah “otak” di balik penjatuhan rejim Orde Baru. Di sejumlah diskusi dengan berbagai kalangan, Letjen (Purn) Prabowo Subianto, yang menjabat Pangkostrad pada Mei 1998, tegas menolak ketika elemen mahasiswa mengklaim sebagai penumbang rejim Soeharto. Prabowo dengan tegas menunjuk CIA lah sebenarnya yang telah merancang dan menjatuhkan rejim Orde Baru.

Tudingan mantan Danjen Kopassus itu kini menjadi konklusi atau kesimpulan yang tak terbantahkan. Deretan ahli ekonomi internasional pun menyimpulkan bahwa malapetaka yang melumatkan Indonesia yang dimulai dengan krisis moneter, pada Juli 1997 yang berubah menjadi krisis multidimensi yang menumbangkan Soeharto itu, hakikatnya memang suatu skenario yang sengaja dirancang. Gambar Michael Camdesus, Managing Director IMF berkacak-pinggang saat menyaksikan Presiden Soeharto yang tengah menandatangani perjanjian (letter of intent) dengan IMF, menjadi simbol pemaksaan IMF pada pemerintahan RI. Dan sejarah membuktikan dengan sederetan persyaratan yang dipaksakan IMF itu (al : membekukan 16 bank, menaikkan harga BBM dst) telah menjadi bom yang dalam waktu singkat menghancurkan negeri ini dalam krisis yang berkepanjangan. Camdesus sendiri beberapa tahun kemudian mengakui dan lantang mengatakan dimana-mana,”Kami sengaja menciptakan kondisi itu, agar Soeharto jatuh!” Fakta di sekitar skenario IMF, World Bank dan diotaki sejumlah negara Adidaya, khususnya Amerika Serikat, terhadap usahanya menghancurkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), kini bisa dibaca, di antaranya dalam buku karya John Perkins berjudul : Cofessions of an Economic Hit Man. Bahkan ada lagi misteri dana 26 juta dolar AS yang digelontorkan US-AID sekitar Mei 1998 yang niscaya jumlah dana yang besar untuk menggerakkan massa yang telah beringas siap menumbangkan  Soeharto.

Reformasi Berbuah Negara Gagal

Kendati pelajaran melalui perjalanan nyata pergantian era Orde Baru dan era Reformasi, begitu terang benderang, tetapi bangsa Indonesia tak pernah sadar akan kesalahan-kesalahannya yang fatal. Pada masa akhir jabatan Soeharto, Indonesia selalu dipuji-puji Barat sebagai negara Macan Ekonomi Asia yang fundamen ekonominya sangat kuat. Bangsa Indonesia pun mabuk oleh pujian ini. Tapi  pujian itu ternyata omong kosong belaka, Sang Macan Asia yang kuat fundamen ekonominya itu, dalam waktu singkat hancur lebur diterjang krisis moneter pertengahan 1997, dan menjadi krisis multidimensi yang meluluh-lantakkan negeri ini dan pengaruhnya masih dirasakan setelah lewat satu dekade. Sementara sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Korea Selatan yang juga dilanda krisis moneter, cukup memerlukan waktu satu, dua tahun untuk memulihkan dirinya. Malaysia, malah dengan garang menolak bantuan dan campur tangan IMF, dan kemudian terbukti (menjadi contoh) negara mana saja yang “manut dirawat” IMF justru bagai menyerahkan lehernya untuk menelan pil-pil pahit yang makin mencekiknya.

Pujian kosong yang justru menghancurkan itu, tak pernah dijadikan pelajaran para pemimpin bangsa Indonesia. Kini di era reformasi lebih satu dekade ini  bangsa Indonesia (khususnya pemerintahannya) kembali mabuk akan pujian Barat yang selalu manyanjung Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia ke III setelah Amerika Serikat dan India. Inilah kiranya bius demokrasi yang akan menghancurkan masa depan bangsa Indonesia. Pelajaran nyata praktik demokrasi sepanjang lebih sepuluh tahun di bawah empat presiden : Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono (dua kali memerintah) yang kesemuanya mengusung sistem politik yang demokratis bahkan liberalistis dan kapitalistis itu, apa hasilnya?

Dua tahun terakhir ini mengemuka istilah : Negara Gagal (Failed State). Itulah julukan NKRI yang amat mengerikan hari-hari ini. Kegagalan rejim reformasi, kiranya nyata disebabkan telah terjebak sistem demokrasi itu sendiri. Pemilihan  secara langsung telah menghasilkan presiden SBY, belasan gubernur, dan ratusan bupati/kepala daerah, tetapi sistem ini ternyata sarat oleh praktek sogok alias politik uang  yang secara pasti akan menyeret bangsa Indonesia ke pusaran air bah yang akan menenggelamkannya. Keprihatinan golongan elite mencuat di mana-mana, di antaranya yang menamakan diri DEPAN (Dewan Penyelamat Negara), yang dibentuk sejumlah politisi, ekonom, bekas perwira tinggi TNI, dan agamawan. DEPAN bermanuver dimana-mana dengan mengunjungi sejumlah tokoh nasional, bahkan membezoek Antasari Azhar bekas Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di penjara. DEPAN selalu mendorong tokoh yang ditemui agar membongkar kebobrokan rejim SBY. Hal inilah yang dilakukan saat menemui Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra di kantornya Ihza & Ihza Law Firm, 11 Mei 2011 di Gedung Citra Graha Gatot Soebroto Jakarta Selatan. Kecaman terhadap rejim SBY pun mengemuka di forum ini, termasuk status baru NKRI sebagai Negara Gagal. Hatta Taliwang mewakili DEPAN mendaulat Yusril agar menceritakan sejumlah misteri, misalnya soal Bank Century, keterkaitan Boediono, hingga kasus Sisminbakum yang gamblang sebagai kasus politik bertujuan mendiskreditkan dirinya. Cerita di balik layar dan musykil pun dibentangkan Yusril dan membuat yang mendengarnya geleng-geleng kepala. Sudah separah inikah NKRI hari ini?

Status Negara Gagal buat NKRI sebenarnya sudah mulai mencuat sejak 2007, setelah majalah Foreign Policy yang bekerjasama dengan tink-tank Amerika Serikat The Fund for Peace, mengumumkan daftar 60 index Negara Gagal. Indonesia masuk dalam daftar 60 Negara Gagal itu bersama Sudan, Somalia, Zimbabwe, Kongo, Ethiopia, Uganda, Irak, Timorleste, Myanmar, juga sederetan negara di Amerika Latin seperti Haiti. Ukuran sebagai negara gagal di antaranya disebutkan pemerintahan pusat posisinya sangat lemah dan tidak efektif. Pelayanan umum buruk, tindak kriminalitas dan korupsi merajalela, dan ekonomi merosot. Tanda-tanda atau indikasi sebagai Negara Gagal yang telah dibuat Foreign Policy bersama The Fund for Peace, pada 2007 niscaya kini 2011 kondisinya lebih parah lagi dan makin merosot. NKRI yang makin centang-perenang telah diuraikan di rubrik ini edisi  SI 112 yang baru lalu. Ada lagi julukan kini Indonesia menerapkan sistem Demokrasi Kriminal.

Enyahkan Mimpi Negara Demokratis

Kondisi yang jelas-jelas membawa NKRI ke  arah Negara Gagal ini tentu saja tak pernah diakui oleh penguasa dan kalangan establishment yang justru menikmati kondisi centang-perenang dan kehancuran bangsa Indonesia ini. Dalih yang amat popular untuk menepis fakta mengerikan itu adalah : Kondisi ini Hanyalah Masa Transisi. Jadi semua pihak harus sabar dan harus mempertahankan sistem politik yang sekarang yakni demokrasi yang liberal dan kapitalistik itu. Sungguh dalih yang amat naïf dan jauh dari fakta-lapangan.

Jika orang mau merujuk kepada ilmuwan penganjur sistem demokrasi liberal itu sendiri, yakni Prof Huntington dari Harvard University AS, diperlukan syarat bagi sebuah negara yang semula otoritarianisme untuk menerapkan sistem demokrasi yang liberal yakni income perkapita atau pendapat perkapita penduduk yang (harus)  tinggi. Semakin tinggi income perkapita  suatu negara makin muluslah perubahan dari sistem diktator ke sistem demokrasi liberal. Menurut Huntington dalam bukunya The Third Wave  : Democratization in the Late Twentieth Century, apabila negara miskin (mungkin seperti Indonesia maksudnya) memaksakan untuk menerapkan peralihan sistem dari otoriter ke demokrasi liberal, maka negara itu dalam waktu singkat akan kembali ke sistem semula yang otoriter.

Gamblang kiranya fakta yang terbentang dan diuraikan di atas, perubahan rezim otoriter Soeharto sejak Mei 1998 diganti rejim demokrasi liberal sepanjang 11 tahun terakhir, ternyata justru membawa Indonesia dalam kesulitan-kesulitan yang luar biasa. Yang paling mengerikan kini NKRI bahkan memiliki label baru : Negara Gagal. Sebelum benar-benar tenggelam ke dasar jurang yang lebih dalam, ada baik hikmah peringatan 11 tahun Reformasi Mei 2011 ini direnungkan dalam-dalam. Rumus paling pas justru mengikuti penganjur Demokrasi liberal itu sendiri, yakni Prof. Huntington, yang tegas-tegas menyebutkan negara miskin tak mungkin bisa mengikuti sistem demokrasi liberal. Jadi, enyahkanlah mimpi sebagai negara demokratis terbesar ke-III di dunia. Dengan sistem politik apapun, yang prioritas bagi Indonesia adalah: Mensejahterakan rakyat Indonesia. Yang kedua barangkali juga masih : Mensejahterakan rakyat Indonesia bahkan yang ketiga juga masih : Mensejahterakan rakyat Indonesia. Bukan sekadar slogan jika hal itu tercapai, segala yang lain niscaya mudah dicapai pula. Sistem yang belum dicoba adalah sistem Islam yang paripurna dan lengkap serta teruji dalam khazanah apapun untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera. Wallahua'lambissawab!

Ternyata, Pasukan Khusus Inggris Bantu Pemberontak Libya

Jum'at, 26 Agustus 2011 

Hidayatullah.com--Pasukan khusus angkatan bersenjata Inggris, menurut laporan harian Daily Telegraph, saat ini berada di Libya untuk membantu pemberontak mencari penguasa negeri itu, Muammar Qadhafi.
Menurut laporan harian Inggris Daily Telegraph, sejumlah tentara Inggris berada di Libya sejak beberapa pekan ini untuk membantu pemberontak negeri di Afrika Utara itu. Selanjutnya dilaporkan bahwa pasukan khusus Inggris tersebut memainkan peran kunci dalam mengkoordinasi penyerbuan ke kota Tripoli. Pasukan Inggris itu dikatakan mengenakan pakaian seperti kelompok pemberontak dan menggunakan senjata yang sama. Demikian Daily Telegraph yang mengutip lingkungan kementrian pertahanan Inggris.
Dalam berbagai wawancara televisinya Kamis pagi (25/08/2011), Menteri Pertahanan Inggris, Liam Fox tidak mau mengomentari laporan tersebut secara langsung.
Ia hanya mengutarakan, “Malam kemarin NATO lebih aktif dengan serangan-serangannya terhadap berbagai pusat komando dan pengawasan rezim ketimbang hari-hari sebelumnya. Militer Inggris ikut terlibat."
Menurut keterangan resmi, Inggris hanya memberikan dukungan udara dan informasi intelijen. Namun Menhan Fox membenarkan bahwa penasehat militer Inggris ditugaskan untuk membantu pemberontak pada bagian komunikasi dan logistik serta struktur komando.
Saat ditanya, apakah ia merencanakan pengiriman pasukan darat Inggris, Fox menjawab: “Tidak. Bila pasukan darat diperlukan untuk menstabilkan situasi, maka sebaiknya negara-negara Arab atau Uni Afrika yang mengirimkan pasukannya. Harus ada penyelesaian dari Libya untuk masalah ini. Kalau perlu bantuan, sebaiknya dicari dari wilayah itu dan tidak dari barat, jika itu menyangkut perkembangan jangka panjang di Libya."
Menteri Pertahanan Inggris menegaskan bahwa ia melihat kekuasaan Qadhafi berakhir, meskipun tidak diketahui, di mana ia kini berada. Fox mengungkapkan penyesalannya bahwa pada sidang DK PBB menyangkut Libya di New York, Kamis (25/08/2011), Afrika Selatan menolak usulan pencairan aset Qadhafi yang dibekukan untuk kepentingan pemerintah transisi: “Saya pikir ini sangat disayangkan dan salah. Bila Afrika Selatan mengatakan bahwa mengakui Dewan transisi berarti tidak netral lagi, maka orang harus melihat kenyataan bahwa warga Libya sendiri yang telah memutuskan untuk kebebasan dan menentukan masa depannya sendiri."
Kepung milisi Qadhafi
Sementara itu, di jalan-jalan Tripoli masih terdengar baku tembak antara pemberontak dan pendukung Qadhafi. NATO melanjutkan serangan udaranya Kamis malam di Tripoli. Bandara ibukota juga berhasil dikuasai oleh pemberontak setelah mendapat perlawanan dari tentara Qadhafi.
Hingga laporan diturunkan, pemberontak mencari Qadhafi di dalam sistem bunkernya yang cabangnya luas. Mereka menemukan pusat pengaturan sistem dan kendaraan-kendaraan di dalam bunker itu. Di kawasan Abu Salim di Tripoli sekitar 1.000 pemberontak mengepung sejumlah bangunan tempat persembunyian milisi Qadhafi. Juga di daerah-daerah tertentu dilaporkan pertempuran-pertempuran baru.*
Sumber : dwwd

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Profesor Frankel: 20 Tahun Menuju Islam

James D. Frankel adalah seorang profesor bidang perbandingan agama dan sekarang mengajar di Universitas Hawai. Di universitas itu, Frankel juga mengajar mata kuliah tentang Islam dan ia sendiri adalah seorang mualaf.
Dari kediamannya di Honolulu, Hawai, Profesor Frankel berbagi cerita tentang perjalanannya menjadi seorang muslim.
Sebelum pindah ke Hawai dua tahun yang lalu, Frankel menetap di New York, kota tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Frankel tumbuh dalam lingkungan keluarga bahagia. Orang tuanya tidak menerapkan ajaran agama tertentu dan hanya menanamkan nilai-nilai moral, meski sebenarnya keluarga Frankel memiliki latar belakang Yahudi.
Satu-satunya koneksi yang pernah menghubungkannya dengan soal agama adalah nenek dari pihak ayahnya, yang masih menjalankan ajaran-ajaran agama Yahudi. Dari neneknya itulah, Frankel belajar sedikit tentang kisah-kisah dalam alkitab dan kisah-kisah nabi.
Orang tua Frankel pernah mengirimnya ke sekolah Yahudi agar Frankel bisa belajar banyak tentang agama Yahudi. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Frankel merasa tidak nyaman di sekolah itu, dan sebenarnya ia dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak bertanya.
"Mungkin itu sudah karakter saya. Sampai sekarang, sebagai seorang muslim dan seorang prfesor, saya tetap jadi orang yang banyak tanya," ujar Frankel.
Jadilah ia tumbuh remaja tanpa basis ajaran agaman apapun. Di usia remaja, Frankel punya dua pengalaman yang menurutnya menjadi pengalaman hidup yang penting. Pada usia 13 tahun, Frankel membaca manifesto Karl Marx dan ketika itu ia memutuskan untuk menjadi seorang komunis. Ia terkesan dengan filosofi komunis yang menurutnya bisa menyejahterakan semua orang.
Pada usia itu juga, Frankel merasa untuk pertama kalinya mulai mendengar tentang agama Islam. Karena sekolah di sekolah internasional, Frankel punya teman dari berbagai negara. Salah satu teman baik Frankel saat itu seorang siswa muslim asal Pakistan. Temannya itu memberikan Al-Quran dan ingin Frankel membacanya.
"Saya tidak mau kamu masuk neraka," ujar Frankel menirukan ucapan temannya saat memberikan Al-Quran.
Frankel mengatakan, selama hidupnya ia tidak pernah memikirkan soal neraka. Ia hanya menerima Al-Quran itu dan menyimpannya di rak buku selama bertahun-tahun. Frankel tidak pernah membuka-bukanya.
Beberapa tahun kemudian, Frankel menjadi ragu dengan komunisme yang dianutnya setelah melihat bagaimana prinsip komunisme di praktekkan di banyak negara. Ia lalu memutuskan untuk tidak lagi menjadi seorang komunis.
Frankel mengungkapkan, sejak kecil sebenarnya ia sudah memikirkan tentang apa makna hidup ini sesungguhnya; mengapa ia ada di dunia ini, kemana ia akan menuju dan mengapa ada orang yang menderita. Tapi pikiran-pikiran hanya mengendap di kepalanya, hingga beranjak dewasa dan kuliah, Frankel hanya memfokuskan aktivitasnya pada belajar. Hingga ia mengalami hal yang akan membawa perubahan padanya, kematian nenek dimana Frankel pernah belajar tentang Alkitab dan kisah nabi-nabi.
Kematian Nenek yang Mendadak
Pengalaman ini menggetarkan hati Frankel. Betapa tidak, sehari sebelum ia menerima kabar kematian sang nenek, Frankel dan neneknya sempat menikmati makam malam. Waktu itu, Frankel masih mahasiswa dan tinggal di Washington DS, ia mendapat kejutan berupa kunjungan nenek, bibi dan seorang sepupunya.
Frankel menghabiskan waktu sepanjang sore berbincang-bincang dengan neneknya. Frankel menceritakan keinginannya untuk pindah kuliah dan memperdalam studi tentang China. Malamnya, Frankel, nenek, bibi dan sepupunya pergi keluar untuk makam malam. Frankel tidak melihat tanda-tanda bahwa itulah malam terakhir ia bertemu dengan neneknya. Setelah makan malam, Frankel diantar pulang ke asrama.
Pagi dinihari, Frankel dikejutkan oleh dering telepon dari sepupunya, mengabarkan bahwa nenek meninggal dunia. Franke kaget dan tak percaya. Sepupunya bilang, nenek terkena serangan jantung saat tidur. Frankel langsung terbayang kembali pertemuan dengan neneknya semalam, ia tak menyangka neneknya akan "pergi" secepat ini.
Frankel pulang ke New York untuk menghadiri pemakaman neneknya. Pemakaman dilakukan dengan tradisi Yahudi. Pada Rabbi yang memimpin pemakaman, Frankel menanyakan tentang tradisi yang dilakukan keluarga Yahudi saat salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Ia menanyakan, mengapa saat pemakaman, Rabbi mengatakan bahwa nenek sudah diambil kembali oleh Tuhan.
"Lalu dimana nenek sekarang? Setelah diambil Tuhan, kemana nenek pergi? kemana kita juga akan pergi, dan mengapa kita ada di dunia ini," tanya Frankel pada Rabbi ketika itu.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, sang Rabbi, ungkap Frankel, melihat jam tangannya dan berkata, "Saya harus pergi" tanpa memedulikan betapa marahnya Frankel mengalami hal semacam itu, pertanyaan-pertanyaannya sama sekali tak dijawab.
Mencari Kebenaran
Frankel mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu. Saat itu, usia Frankel masih 19 tahun. Ia mengunjungi komunitas Yahudi, tapi jawaban yang diberikan tidak memuaskannya. Orang-orang Yahudi itu mengatakan, Tuhan--yang ingin diketahui Frankel--adalah satu-satunya Tuhan milik orang Yahudi.
Akhirnya, Frankel memutuskan untuk belajar sendiri. Ia mulai membaca isi Alkitab. Saat berkunjung ke Inggris, ia didekati oleh sejumlah orang penganut Kristen Evangelis. Tentu saja orang-orang itu ingin menarik Frankel sebagai penganut Kristen Evangelis, dan Frankel berpikir untuk mencobanya.
Saat membaca Alkitab, Frankel merasakan cinta yang kuat dan penghormatan terhadap Yesus. Tapi yang tidak bisa diterimanya, Alkitab menyuruhnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya. Bagi Frankel, Yesus tidak lebih seperti kakak kesayangan atau seperti seorang guru. Lagi-lagi Frankel merasa tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya tentang ketuhanan.
Frankel kembali mempelajari hal-hal lainnya, mulai dari filosofi agama Budha, filosofi Yunani, Romawi dan sejarah. Tapi semuanya belum menjawab pertanyaan Frankel. Saat kembali ke New York dari Inggris, Frankel bertemu dengan beragam pemuka agama. Ia mencoba berdiskusi dengan mereka soal agama, meski ia sendiri skeptis.
Interaksi dengan Al-Quran dan Menjadi Muslim
Interaksinya pertama Frankel dengan Quran berawal ketika ia bertemu dengan para aktivis Nation of Islam. Salah seorang diantara aktivis itu memberinya salinan Surat Al-Kahf beserta terjemahannya. Frankel membawa salinan salah satu surah dalam Quran itu ke rumah, dan ia teringat akan Al-Quran yang pernah diberikan temannya enam tahun yang lalu.
Frankel mulai membaca isi Al-Quran lembar demi lembar. Frankel merasakan sesuatu yang berbeda dibandingkan ketika ia membaca Alkitab. Membaca Quran, Frankel merasa Tuhan sedang bicara langsung padanya. Di satu titik, Frankel pernah sampai meneteskan air mata, merinding, ia merasa bulu kuduknya berdiri, saat membaca isi Al-Quran.
Januari 1990, Frankel bertemu dengan teman-temannya semasa sekolah menengah. Mereka minum kopi sambil berbincang menanyakan kabar masing-masing. Seorang teman yang tahu bahwa dulu Frankel adalah seorang komunis bertanya, "Apa yang kamu yakini sekarang?" dan spontan Frankel menjawab, "Yah, saya percaya pada Tuhan. Hanya ada satu Tuhan."
Jawaban itu tentu saja membuat teman-temannya terpana. Mereka bertanya, darimana Frankel tahu bahwa Tuhan itu satu. Frankel menjawab, ia tahu dari Al-Quran. Salah seorang temannya yang muslim menanyakan apakah Frankel membaca Quran, dan oleh sebab itu, Frankel pun harus percaya bahwa Quran adalah pesan-pesan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Frankel menjawab "ya", ia percaya Muhammad utusan Allah. Temannya lalu mengatakan, maka Frankel sudah menjadi seorang muslim.
Frankel hanya tertawa mendengar perkataan temannya yang asal Pakistan itu. "Saya seorang muslim? Kamu yang muslim, kamu dari Pakistan. Saya cuma orang yang percaya pada Tuhan," tukas Frankel.
Tapi temannya bersikeras, "Tidak, kamu adalah seorang muslim. Kamu percaya tidak ada Tuhan selain Tuhan yang satu dan percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Maka, kamu adalah seorang muslim."
Frankel syok mendengar perkataan sahabatnya itu.
Selama beberapa hari kemudian, ia memikirkannya. Frankel memutuskan untuk menelpon Mansour, teman yang dulu memberinya Al-Quran. Mansour kuliah di Pennsylvania dan bekerja di Asosiasi Mahasiswa Muslim di sana. Frankel meminta Mansour mengirimkan literatur-literatur tentang Islam dan persyaratan untuk menjadi seorang muslim.
Mansour mengiriminya sekira dua buku.
Dari buku-buku itu, Frankel membaca tentang rukum Islam, bagaimana caranya salat, wudu dan ucapan dua kalimat syahadat.
Frankel mulai mempraktekkan salat diam-diam di kamarnya--karena waktu itu ia sudah tinggal lagi dengan orang tuanya--bahkan untuk pertama kalinya ia ikut berpuasa di bulan Ramadan. Kondisi itu berlangsung hampir 8 bulan, dan itulah kehidupan pertamanya sebagai muslim.
Frankel tak bisa menyembunyikan keinginannya lagi. Ia menceritakan semua pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi seorang muslim. Ibunya bereaksi keras, menangis dan menanyakan mengapa semua ini bisa terjadi.
Hubungan Frankel dengan kedua orang tuanya jadi kaku. Frankel mencoba meyakinkan ayah ibunya bahwa ia menjadi mahasiswa dan manusia yang lebih baik setelah memeluk Islam.
"Alhamdulillah, kedua orang tua saya akhirnya menerima keislaman saya. Buat saya, ini adalah perjalanan selama hampir 20 tahun dan hanya Allah yang tahu, bagaimana dan kemana semua ini akan berakhir," ujar Frankel.
"Maka pesan saya bagi para mualaf maupun mereka yang sudah lama menjadi muslim, untuk selalu bersabar dan lihatlah kejutan yang akan diberikan Allah pada kita, bukan dengan ketakutan tapi dengan cinta dan harapan," tukas Frankel. (kw/oi)

Margaret Templeton, Perempuan Atheis yang Masuk Islam pada Usia 65 Tahun

Margaret Templeton, perempuan Skotlandia ini terlahir dari keluarga atheis. Di rumahnya, anggota keluarga tidak pernah dibolehkan untuk bicara tentang Tuhan. Bahkan ketika Margaret belajar tentang Tuhan di sekolah, ia tidak boleh mengatakan apapun yang diketahuinya di lingkungan rumah, atau ia akan mendapat hukuman.
Namun Margaret terus mencari kebenaran atas sejumlah pertanyaan, mengapa ia ada di dunia ini, untuk apa ia hidup di dunia dan apa yang seharusnya ia lakukan. Hingga usianya beranjak senja, Margaret memulai pencariannya tentang "seseorang yang disebut Tuhan", yang sering disebut-sebut oleh banyak orang sepanjang hidupnya. Saat itu, ia hanya mencari informasi tentang Tuhan, bukan mencari informasi tentang agama tertentu.
"Kebenaran, sesuatu yang masuk akal untuk saya, yang membuka hati saya dan membuat hidup saya lebih bermakna. Saya mendatangi hampir setiap gereja di Inggris Raya, tapi tidak pernah terjadi pada saya untuk berpikir tentang Islam," ujar Margaret.
Saat Margaret mulai mengenal dan tertarik dengan agama Islam, AS melakukan invasi ke Irak dan Margaret membaca banyak hal buruk yang ditulis media massa tentang muslim. Sebagai orang yang sudah mempelajari berbagai agama, ia yakin apa yang dibacanya tidak benar.
"Media massa mengabarkan kebohongan. Makanya saya mencari seorang guru yang bisa mengajarkan saya tentang tata cara hidup berdasarkan ajaran Islam, agar saya bisa membantah apa yang mereka katakan tentang Islam, yang sebenarnya salah, hanya kebohongan dan datangnya dari syetan, sebutan yang lalu saya berikan buat mereka yang menggambarkan muslim itu buruk," papar Margaret.
Margaret sempat memeluk agama Katolik Roma dan berusaha mengamalkan doktrin agamanya. "Salah satu hal yang saya lakukan adalah bersikap ramah dengan semua orang. Saya biasa tersenyum pada setiap orang dan menyapa mereka 'hello', 'apa kabar?' dan 'bagaimana hari Anda hari ini?' ... seperti Yesus yang selalu menyebarkan kebahagiaan dimanapun ia berada," ungkap Margaret.
Tapi ia merasa sangat tidak bahagia menjadi seorang penganut Katolik Roma. Margaret lalu meninggalkan gereja dan tak tahu kemana harus berpaling. Ia lalu mencoba mencari seorang guru agama Islam. Ia berdoa dan berdoa setiap hari pada Tuhan, memohon pertolongan dan itu berlangsung selama hampir dua tahun karena ia tak tahu apa yang harus dilakukannya dan kemana ia harus pergi.
Akhirnya seorang teman dari temannya mengenalkan Margaret pada seorang alim ulama bernama Nur El-Din, keturunan Arab. Ulama itu mengundang Margaret ke rumahnya dan Margaret memenuhi undangan itu. Ia juga memberi rekomendasi sejumlah buku yang bisa dibeli Margaret dan meminta Margaret menanyakan langsung padanya jika ada pertanyaan.
"Itulah awal hubungan kami. Buku itu terdiri dari tujuh jilid, yang mengomentari tentang Quran, bukunya bagus sekali," ujar Margaret.
Ia mempelajari buku itu dari bagian depan, dimulai dengan Surah Al-Baqarah. Lalu Margaret membaca Surah Al-Fatihah. Ketika membaca surat itu, Margaret merasa seperti tersambar petir. "Air mata saya menetes, deras seperti Niagara Falls. Jantung saya berdegup kencang ... saya berkeringat .... gemetaran ... saya ketakutan bahwa ini adalah syaitan yang mencoba menghentikan saya karena saya mungkin telah menemukan jalan, karena buku ini mungkin menunjukkan saya jalan kebenaran, yang selama ini saya cari," tutur Margaret.
Ia lalu menelpon ustaz Nur El-Din, yang kemudian meminta Margaret menemuinya. Di tengah musim dingin yang menggigit, Margaret datang ke kediaman ustaz itu dengan tubuh yang hampir membeku. Ia lalu menceritakan apa yang dialaminya saat membaca Surah Al-Fatihah dan ustaz Nur El-Din hanya mengatakan, "Margaret, Kamu akan menjadi seorang muslim."
Margaret menjawab, bahwa ia membaca buku-buku itu bukan untuk menjadi seorang muslim, tapi agar bisa menyanggah kebohongan-kebohongan yang diceritakan tentang kaum Muslimin. "Saya tidak mau menjadi seorang muslim," kata Margaret ketika itu pada ustaz Nur El-Din.
Ustaz Nur El-Din merespon, "Margaret, Kami akan menjadi seorang muslim, karena saya harus mengatakannya pada kamu, bahwa ada campur Illahi dalam hidupmu."
Kala itu, Margaret berusia 65 tahun. Ia terus belajar dengan ustaznya itu. Setelah empat bulan belajar, ia malah tidak sabaran untuk segera mengucapkan syahadat. Margaret bertanya apakah tidak terlalu terburu-buru baginya, karena ia benar-benar tidak mau menjadi seorang muslim.
"Tapi saya yakin, saya akan belajar dan Tuhan akan memaafkan saya karena tidak menghargai karunia yang sangat besar, yang telah Dia berikan pada saya," ujar Margaret.
Margaret akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat pada 11 Februari 2003 dengan bimbingan Ustaz Nur El-Din. "Apa yang tadi saya ucapkan?" tanya Margaret pada Ustaznya, yang kemudian menjelaskan arti dua kalimat syahadat.
"Dan saya sekarang seorang muslim?" tanya Margaret lagi. Ustaz El-Din menjawab, "Ya, dan nama kamu sekarang adalah Maryam."
Sejak itu, Margaret Templeton menyandang nama islami Maryam Noor. Ia masuk Islam saat usianya sudah 65 tahun.
"Saya tidak bisa bilang bahwa saya seorang muslim yang baik, karena itu sangat, sangat sulit. Saya kehilangan semua teman-teman Katolik saya, semua teman yang dulu saya ajak berbincang. Anak perempuan saya berpikir saya gila! Cuma anak lelaki saya yang percaya bahwa saya telah menemukan kebenaran, dan dia satu-satunya pada saat itu yang mungkin menjadi seorang muslim," tutur Margaret "Maryam" tentang pengalamannya setelah masuk Islam.
"Hal kedua yang membuat hidup saya sangat berat adalah, saya tinggal di negara sekuler dan bukan di negara muslim. Dengan sepenuh hati, saya ingin menetap di sebuah negara muslim dan hidup di tengah masyarakat muslim. Saya satu-satunya muslim di tempat saya tinggal. Tapi Allah sangat baik, karena di tengah semua kesulitan ini, saya bahagia, saya terus belajar," sambungnya.
Maryam hanya memohon pertolongan pada Allah agar tetap istiqomah dalam keislamannya. "Ingatlah duhai Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bahwa saya benar-benar hanya seorang bayi, seorang bayi berusia 65 tahun. Saya menghadapi kesulitan dan Engkau harus menolong hamba," doa Maryam.
"Dan inilah cara Allah menolong saya," tandasnya. (kw/oi)

20 Insinyur Cina Memeluk Islam di Makkah

MAKKAH -  Dua puluh insinyur senior Cina yang bekerja pada proyek Kereta Al-Masha'er telah memeluk Islam dengan mengucapkan Syahadat. Para insinyur ini sekarang bergabung dengan 2000 pekerja lainnya yang juga telah menjadi Muslim.

Ada 6000 insinyur dan pekerja yang terlibat dalam pembangunan sistem transportasi. Sebuah masjid untuk beribadah juga telah didirikan pada proyek ini.

Mereka kini sedang mengikuti pelajaran yang diberikan untuk para Mualaf oleh Kantor Koperasi Mekah untuk Bimbingan Komunitas, dari Divisi Bimbingan Masyarakat Cina.

Divisi ini telah menyiapkan program khusus untuk 20 insinyur tersebut, termasuk penjelasan, memulai syahadat, belajar wudhu, dan belajar bahasa Arab yang akan diajarkan oleh ulama Muslim dari Cina.

Muhanna Al-Harbi, seorang pengawas di kantor Komunitas Masyarakat Tionghoa di Arafah mengatakan, ia dan rekan-rekannya memerlukan "sumber belajar, untuk mengajari kami hal-hal mengenai agama dan bahasa Arab".

Al Harbi juga berharap bisa mendapatkan bantuan dana untuk proyek ini, serta memerlukan buku-buku Islam yang sudah diterjemahkan ke bahasa Cina.

Kantor Komunitas Masyarakat Tionghoa ini tiap hari juga menyediakan 400 makanan untuk berbuka bagi Muslim Cina, dan telah memberangkatkan 550 Mualaf Cina berhaji.

"Orang Cina cinta ketertiban dan kejujuran, dan mereka memiliki karakteristik pembawaan yang indah, sebagai akibat dari Islam yang telah menyebar di antara mereka," kata Dr Setr al-Juaid, Direktur kantor tersebut, yang juga seorang profesor di universitas Ummul Qurra Makkah. [muslimdaily.net/saudigazette]

Pembangunan Masjid di Ground Zero (Di bekas gedung WTC) Akhirnya Disetujui

New York (SI ONLINE) - Ketika rencana pembangunan masjid dan Pusat Kajian Islam di Ground Zero diumumkan tahun lalu, berbagai pihak menentang keras rencana tersebut termasuk politisi Amerika.
Berbagai alasan diajukan mereka; ada yang menuding rencana itu tidak peka terhadap perasaan warga Amerika, bahkan ada yang menganggap berdirinya pusat kegiatan Islam itu merupakan lambang kemenangan teroris yang merobohkan menara kembar World Trade Center sepuluh tahun lalu.

Pastur Edward Beck dari komunitas katolik Passionist NY adalah salah seorang yang mendukung pendirian mesjid itu. Dalam wawancara dengan media ABC, ia mengatakan, “Pertama-tama mereka akan membangun pusat kajian Islam termasuk masjid yang bisa menampung  1.400 orang, tetapi ini tidak di lokasi 9-11, letaknya berjarak dua blok (dari Ground Zero).  

Saya berbicara dengan wartawan CNN yang mengatakan bahwa dua blok dari sana bahkan ada juga toko yang menjual barang-barang porno. Apabila kita tidak membolehkan pembangunan masjid yang bertujuan untuk membina dialog antar agama dan berdoa bagi perdamaian, mengapa kita tidak memprotes hal itu?”

Untuk meredakan ketegangan yang menghangat itu, tahun lalu Gubernur New York, David Paterson dan Uskup Agung Timothy Dolan, seperti yang dikutip media ABC,  mengusulkan agar lokasi masjid itu dipindahkan ke tempat lain.

Setelah setahun berlalu, Imam Faisal Abdul Rauf, yang memimpin proyek yang disebut sebagai Cordoba Initiative tersebut, tidak lagi aktif terlibat dalam pembangunan kompleks masjid tersebut.

Tugasnya diambil alih oleh Sharif El Gamal, seorang pengembang real estate asal New York. Gamal adalah Direktur Soho Properties, salah satu perusahaan real estate yang berkantor di Manhattan.

Komplek masjid itu rencananya akan dilengkapi dengan kolam renang, tempat pertunjukan dan lapangan basket, yang tidak hanya bisa digunakan oleh umat Islam di kawasan itu, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.

Pembangunan masjid itu akhirnya dibahas dan disetujui oleh komisi yang ditunjuk Walikota New York tahun lalu. Timothy Brown seorang anggota regu pemadam kebakaran yang terlibat dalam upaya evakuasi World Trade Center mengajukan banding atas keputusan itu.

Namun, pada pertengahan Juli tahun ini, Paul Feinman, hakim pengadilan tinggi negara bagian New York  menolak gugatan banding tersebut. Penolakan gugatan ini berarti membuka jalan bagi pembangunan kompleks pusat kajian Islam tersebut.

Subhanallah!!! Tiap Tahun 20.000 Warga Amerika Masuk Islam

BOSTON (voa-islam.com) — Meskipun Islam di Negeri Paman Sam sering dikambinghitamkan sebagai simbol terorisme dan kekerasan, uniknya warga Amerika Serikat (AS) berbondong-bondong hijrah memeluk Islam. Para pengamat memperkirakan setiap tahunnya 20.000 warga AS masuk Islam.
Seperti banyak orang lain yang kebingungan pasca serangan 9/11, Johannah Segarich, warga Boston, Amerika Serikat (AS) bertanya pada dirinya sendiri, “Agama (Islam, red) apa ini yang bisa menginspirasi orang untuk melakukan serangan ini?”
Dia pernah memang mempelajari agama lain, tetapi tidak Islam. Jadi, dia pun membeli terjemahan al-Quran, bertanya-tanya apakah pemahaman dia tentang Islam sebagai agama patriarkal dan sekarang sebagai agama kekerasan, benar adanya.
Lalu dia pun sampai ke surah pertama, dengan tujuh ayat yang berpesan agar manusia mencari bimbingan dari Sang Pencipta Yang Maha Pengasih. Ia pun selesai membaca al-Quran dalam beberapa minggu kemudian dan mulai membacanya sekali lagi. Sekitar 10 minggu setelah tragedi 9/11, “Saya menyadari,” katanya, “bahwa saya telah membuat keputusan.”
Segarich mulai mempelajari Islam lebih intens, dan dalam beberapa bulan, instruktur musik kelahiran Utah itu mengucapkan syahadat, menyatakan diri sebagai Muslimah di Islamic Society of Islam Boston, Cambridge.
“Rasanya seperti gila melakukan semua ini. Saya seorang wanita pekerja profesional setengah baya, sangat independen, sangat kontemporer, dan di sinilah saya beralih ke agama ini, yang saat ini sangat dihina,” kenang Segarich, seperti dikutip situs berita agama Religion News Service, Rabu (24/8/2011).
Memang, sepertinya ini bertentangan dengan intuisi melihat kenyataan bahwa warga AS memutuskan bergabung dengan Islam, agama yang banyak dipandang di Negeri Paman Sam itu sebagai simbol terorisme dan kekerasan —terutama setelah 9/11. Tapi ada lebih banyak orang seperti Segarich yang, didorong oleh rasa ingin tahu, menjadi muallaf.
…Para pengamat memperkirakan bahwa sebanyak 20.000 warga AS masuk Islam setiap tahunnya. Mayoritas muallaf AS adalah perempuan…
Menurut para ahli, mayoritas muallaf pasca 9/11 adalah perempuan. Selain itu, warga Hispanik dan Afrika-Amerika adalah kelompok etnis yang paling banyak menjadi muallaf.
Meskipun jumlahnya sulit dipastikan, pengamat memperkirakan bahwa sebanyak 20.000 warga AS masuk Islam setiap tahunnya.
Beberapa muallaf yang sempat menjadi laporan utama di media massa adalah Yvonne Ridley, wartawan Inggris yang masuk Islam pada 2003 setelah ditawan mujahidin Taliban di Afghanistan. Lalu, ada Lauren Booth, aktivis yang juga saudara ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, yang menjadi muallaf tahun lalu setelah menghadiri demonstrasi pro-Palestina di Teheran, Iran.
Angela Collins Telles dibesarkan di selatan California, tapi kerap melakukan perjalanan ke Mesir dan Suriah, tempat dia bertemu orang yang menurutnya paling dermawan dan penuh kasih. Ketika retorika anti-Muslim terjadi pasca 9/11, Collins Telles merasa perlu membela Muslim.
“Saya melihat negara saya mengutuk orang ini sebagai teroris dan penindas perempuan, dan saya tidak bisa memikirkan apa pun selain kebenaran,” katanya.
“Saya merasa perlu berdiri dan membela mereka. Tapi kemudian saya sadar bahwa saya tidak bisa berdebat tanpa pengetahuan.”
Seperti muallaf lain, Collins Telles mengatakan sejumlah keyakinan Kristen, seperti Trinitas, tidak cukup memuaskan dia.
“Konsep Tuhan sebagai Zat paling indah sesuai dengan apa yang saya percayai,” kata Collins Telles masuk Islam beberapa bulan setelah 9/11.
…Muallaf yang menjadi laporan utama di media massa adalah Yvonne Ridley, wartawan Inggris yang masuk Islam setelah ditawan mujahidin Taliban...
Melihat kenyataan di atas, kini banyak masjid meluncurkan program membantu para muallaf belajar doa, keyakinan dasar, dan perilaku yang tepat dalam Islam.
Vaqar Sharief dari Islamic Center di Wilmington, menyatakan masjid di daerahnya mengislamkan empat atau lima warga setiap bulan.
Terlepas dari antusiasme mereka, beberapa muallaf cemas akan perlakuan teman dan kolega, apakah mereka akan menjadi sasaran pelecehan atau serangan berbau sektarian.
Trisha Squires, seorang muallaf satu bulan, setelah membaca syahadat pada 31 Juli, bahkan harus melepas jilbab saat bekerja, demi menghindari prasangka dari bosnya.
“Saya tak pernah peduli apakah saya akan diterima atau tidak,” kata Collins Telles, yang sekarang tinggal di Brazil bersama suaminya, yang juga masuk Islam setelah bertemu dia. “Saya tahu bahwa saya telah menemukan Tuhan, dan hanya itulah yang saya inginkan.” [taz/pelita, huffingtonpost]

Banjarmasin Bersyariah: Sengaja Tak Puasa Didenda Rp 500 Ribu



Banjarmasin (voa-islam.com) – Penerapan Perda Ramadhan di Banjarmasin ini bisa jadi teladan di wilayah lain untuk membentuk insan beriman dan bertakwa.

Pemerintah Kota Banjarmasin berupaya serius menindak para pelanggar Perda Ramadhan tahun ini. Orang yang tertangkap tidak berpuasa, didenda Rp 300 ribu hingga 500 ribu.

“Denda yang mereka bayar antara 300 ribu sampai 500 ribu per-orang,” ujar Kepala Seksi Penyidikan dan Penyelidikan Satpol PP Kota Banjarmasin Iwan Wahyudi, Kamis (25/8/2011).

Selama yustisi atau penegakan Perda Ramadhan, Satpol PP Kota Banjarmasin telah menjaring 16 pelanggarnya. Selain pedagang yang membuka warung makan dan minum di siang hari, juga penikmatnya.

Empat dari pelanggar Perda Ramadhan yang terjaring warung sakadup Jl Veteran itu, telah dijatuhi sanksi denda dalam putusan di Pengadilan Negeri Banjarmasin.

Untuk pembelinya yang juga sempat terjaring pada waktu itu, kata Iwan, hanya diberikan teguran keras agar tidak mengulangi kembali. “Mereka kita beri surat pernyataan untuk berjanji tidak mengulanginya lagi dikemudian hari,” bebernya.

Menurut Iwan, jumlah pelanggar yang terjaring dibandingkan yustisi pada Ramadhan tahun lalu, masih sedikit. Tahun lalu, setiap melakukan razia, pasti menjaring pelanggar perda tersebut.

Dalam pelaksanaan yustisi penegakan Perda Ramadhan itu, papar Iwan, pihaknya menggandeng kepolisian serta Dinas Sosial dan Tenaga Kerja. Selain membidik pedagang dan penikmat yang membuka usahanya siang hari, juga menertibkan para gelandangan dan pengemis, serta anak jalanan. [taz/inl]

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...