Sunday, November 10, 2013

Intervensi demokrasi dalam ideologi perjuangan Islam



Intervensi demokrasi dalam ideologi perjuangan Islam
Ukasyah - Kamis, 24 Ramadhan 1434 H / 1 Agustus 2013 13:44

Oleh Ustadz Irfan S Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

(Arrahmah.com ) - PERJALANAN sejarah perjuangan umat Islam akhir-akhir ini mencatat, bahwa gerakan Islam memiliki potensi cukup besar untuk memenangkan suara mayoritas melalui pemilu demokrasi. Akan tetapi, kemenangan tersebut menjadi tidak efektif setelah kekuasaan itu diraih. Kemenangan FIS di Al-Jazair pada era 90-an sebagai contoh, begitu mudah dianulir pihak militer. Begitupun kemenangan Najmuddin Erbakan di Turki. Jauh sebelumnya, kemenangan Masyumi di Indonesia hingga meraih kursi Perdana Menteri. Dan yang paling baru, kemenangan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Belum genap setahun berkuasa, pemerintahan Presiden Mursi ditumbangkan secara illegal melalui kudeta militer.
Menyaksikan fakta ini, cukup menarik mengikuti perbincangan A. Hassan dengan  PM Moh. Natsir yang diceritakan pada Muhammad Thalib, tahun 1968, oleh almarhum Abdullah Musa, penanggungjawab Majalah Al-Muslimun dan menantu A. Hassan.
A. Hassan mengatakan, ” Setelah Sukarno meraih kekuasaan menjadi Presiden RI dia berani langsung menghantam dan mendiskreditkan Islam. Tetapi mengapa ketika Natsir menjadi Perdana Menteri, tidak berani membela Islam dan menghantam lawan lawan Islam? Karena takut dituduh tidak demokratis oleh Barat.” Kelemahan tokoh-tokoh Islam, takut dituduh anti barat dan tidak demokratis. Sibuk dengan kesan orang kafir, padahal rezim kuffar dimanapun tidak pernah mempertimbangkan eksistensi Islam dan umat Islam dalam menentukan sistem pemerintahan apa yang akan mereka jalankan. Sikap yang sama berulang lagi pada Presiden Mursi. Dalam suatu wawancara dengan media Prancis Le Monde , seminggu setelah dilantik sebagai Presiden Mesir. Pewawancara menanyakan: “Apakah Ikhwanul Muslimin akan menjadikan Mesir sebagai negara agama?” Presiden Mursi menjawab: “Mesir tidak akan menjadi negara agama.” Ini membuktikan, bahwa Mursi tidak mau berterus terang menghadapi kaum sekuler, mungkin takut dituduh anti demokrasi. “Berani melecehkan Islam, tapi takut melecehkan demokrasi” merupakan sikap umum sebagaian besar tokoh-tokoh Islam.
Intervensi demokrasi sudah sedemikian jauh menyusup ke relung hati sebagian tokoh Islam, dan mengotori aqidah serta pemahaman agama kaum Muslim. Tidak sedikit yang berpendapat, demokrasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Lalu, sadar atau tidak sadar, mereka tampil sebagai bemper demokrasi, menjadikannya sebagai barometer politik dan ideologi.
Makna harfiyah demokrasi, sebagai pecahan dari dua kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasan) adalah kekuasaan rakyat. Inilah makna essensial dari demokrasi, yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat. Termasuk tasyri’ul jamaahiir (wewenang membuat hukum) tergantung suara mayoritas rakyat. Sebagai sistem hidup dan tatanan politik dalam bernegara, demokrasi tidak memiliki sumber hukum, tidak punya kitab suci, apalagi Nabi, semuanya tergantung kehendak dan hawanafsu rakyat, yang disampaikan melalui wakil-wakilnya di parlemen.
Prinsip demokrasi adalah, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kemauan rakyat mayoritas merupakan hukum tertinggi dalam merumuskan undang-undang; sedang kebenaran tergantung kehendak mayoritas. Mengapa kaum demokrasi tidak menggunakan akalnya? Jika suara rakyat adalah suara tuhan, mengapa suara tuhan begitu mudah dibeli dan dimanipulasi pada setiap Pilpres, Pilgub dan Pilkada?
Sesungguhnya Islam mengajarkan, bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan Allah Swt. Islam mengajarkan untuk beribadah dan berserah diri hanya kepada Allah saja. Sebagai tatanan politik bernegara, Islam memiliki sumber hukum, yaitu Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Hukum buatan manusia disebut Undang-undang, dan hukum ciptaan Allah disebut SYARI’AT. Implementasi dari Hukum Qur’an dan Hadist, inilah yang seharusnya dilaksanakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya. Kontroversi di kalangan umat Islam, sesungguhnya dipicu oleh dua hal ini. Apakah dalam menyelenggarakan kekuasaan Negara, apakah kita sebagai umat Islam ‘beriman pada konsep :
1.      Kedaulatan rakyat (demokrasi)’ dan menolak konsep kedaulatan Allah Swt (Islam),
2.      atau sebaliknya menolak konsep demokrasi secara totalitas dan menerima konsep Islam secara totalitas pula?
3.      Atau memilih opsi oportunistik, memadukan demokrasi dan Islam, menolak sebagian dan menerima sebagian ajaran Islam,seperti yang dilakukan  orang-orang kafir ahli kitab yang dimurkai Allah?
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikiandaripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al-Baqarah, 2:85)
Terhadap kenyataan ini, semestinya umat Islam, baik yang berada di dalam parpol atau ormas Islam tidak boleh terlena dan lengah. Apa jadinya jika atas nama demokrasi, lalu menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan sebaliknya? Ada kesan, bahwa parpol Islam justru menjadi bemper demokrasi. Dalam banyak kasus, parpol Islam justru diperalat oleh demokrasi untuk menghambat syari’at Islam. “Boleh saja Islam berperan dalam membangun masyarakat, sejauh tidak bertentangan dengan demokrasi,” begitu alasan mereka. Buruknya ideologi demokrasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan sebaliknya, bagai anak anjing yang tidak menaati induknya. Seperti sebuah analogi dibawah ini:
Suatu ketika, seorang laki-laki dari bani Israil kedatangan tamu, sedang di rumahnya ada seekor anjing yang hamil tua. Berkatalah anjing itu, “Demi Allah aku tidak akan menggonggong kepada tamu tuanku”. Tiba-tiba anak yang dikandungnya lah yang menggonggong. Tuan rumah, si pemilik anjing berkata (kepada seseorang), “Alamat apa ini?” Kemudian Allah memberikan ilham kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Ini adalah permisalan bahwa, akan ada umat sesudahmu, orang-orang bodoh dapat memaksa orang-orang yang pandai dan bijak di antara mereka.”
Analogi ini bersumber dari Abdullah bin Amr yang termuat di dalam kitab Jami’us Shaghir 5204. Maksudnya, bahwa proses mencari, memilih dan menetapkan seorang pemimpin menurut versi demokrasi adalah; siapa yang mendapatkan dukungan terbanyak maka ialah yang patut duduk sebagai pemimpin. Dan suara terbanyak sama artinya dengan siapa yang banyak omong. Alkisah orang-orang bodoh suka membuat gaduh dengan beramai-ramai bersuara keras, berkampanye, bahkan money politic, sehingga suara maupun pemikiran orang-orang pandai, cerdas, dan shalih tidak terdengar karena tenggelam dalam riuhnya suara si bodoh (anjing) yang ber-uang. Ketika tipu daya orang-orang jahat dapat mempengaruhi masyarakat awam, maka orang-orang jahat pun akan dapat mengalahkan orang-orang baik. Itulah demokrasi yang menganggap suara mayoritas sebagai tuhan (kebenaran). Tragisnya, sebagian besar penganut Islam tampaknya merasa amat sangat bersyukur bukan bersedih Indonesia diatur dengan sistem demokrasi, sehingga beramai-ramai menolak syari’at Islam. Mereka menganggap demokrasi sebagai pemersatu dan penyelamat, sedangkan syari’at Islam diposisikan sebagai ancaman dan pemecah belah rakyat. Ucapan dan rasa syukur itu diungkapkan, misalnya oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam orasi pengukuhan sebagai Capres 2009: “Saya bersyukur kepada Allah Swt, keluarga saya diatur dengan demokrasi, sehingga setiap orang dalam anggota keluarga saya bebas berpendapat,” katanya bangga.
Kontra Syari’at Islam Pertarungan antara yang haq dan bathil merupakan sunnatullah. Sedangkan upaya mensinergikan antara keduanya, adalahprogram syetan. Oleh karena itu Islam dengan tegas menolak sinkretisasi/oplos kebenaran dan kebathilan sebagaimana firman-Nya:
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah, 2:42)
Pada tataran ideologis dan praktis, pertarungan yang terjadi sekarang bukan hanya antara Muslim dan Non Muslim, justru antara Muslim yang mendukung dan anti formalisasi syari’ah. Proses syetanisasi dinegeri ini, tidak hanya dimonopoli orang kafir; tetapi berlangsung secara legal, formal, dan konstitusional. Seperti dikatakan sekte JIL (Jaringan Islam Liberal), “Kita menerima ideologi demokrasi, karena demokrasi mensinergikan antara yang baik dan buruk, halal dan haram.”
Kelompok anti syari’ah Islam meyakini bahwa demokrasi lebih tepat bagi bangsa Indonesia, karena bisa mensinergikan antara halal dan haram sesuai kebutuhan. Akibatnya muncul sikap ambivalen dan munafik.
Pada masa Orde Baru kekuasaan politik memang cenderung represif pada Islam karena dianggap menjadi salah-satu potensi ancaman pada rezim yang sedang berkuasa. Upaya sistematis dilakukan oleh kekuasaan formal untuk menekan gerak sosial-politik umat Islam termasuk pemberian cap ‘ekstrim kanan, subversi, radikal, teroris dan sebagainya,’ yang ujung-ujungnya menekan aktifis Islam untuk tidak bisa bergerak maju dalam bidang sosial-politik.
Partai politik yang berasas Islam pun secara sistematis diseret ke arah meninggalkan asas Islam, demikian pula dengan ormas Islam sekalipun yang akhirnya merubah asas Islam menjadi asas lain. Masalahnya, apakah dengan mimikri politik seperti itu Indonesia menjadi lebih maju dan berjaya? Kerusakan masyarakat terus saja bertambah di atas kerusakan yang sudah menggunung.
Lalu, mengapa ada sejumlah tokoh Muslim, bahkan dari kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela Islam, justru menolak formalisasi syari’at Islam? Mengapa terdapat hamba Allah yang membangkang kepada Allah Swt? Apa sesungguhnya dasar berfikir yang melatar belakangi mereka menolak syari’at Islam?
Menurut pengalaman bertahun-tahun di arena perjuangan, dan fakta sosial di masyarakat, faktor penyebabnya antara lain:
1.      di kalangan kaum Muslimin, muncul kesan bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam merupakan ancaman terhadap keselamatan diri di tengah berlangsungnya globalisasi politik, ekonomi, budaya dan globalisasi agama. Hal ini tercermin pada keengganan mereka untuk berterus terang dengan agamanya, dan dengan terpaksa menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam; bahwa Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini. Padahal Allah Swt telah menginformasikan melalui firman-Nya:
“Thaaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah, yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi yang tinggi.” (Qs.Thaaha, 20:1-3)
2.      Selain faktor di atas, banyak kalangan Muslim yang memposisikan Islam selaras dengan demokrasi. Sehingga, ketika mereka melakukan amal-amal demokrasi berlandaskan kedaulatan rakyat dan tunduk pada suara mayoritas, mereka ingin perbuatannya itu dilabeli merk ‘Islami’. Padahal, tidak semua ajaran demokrasi sesuai syari’at Islam, sebaliknya apa yang sesuai dengan syari’at Islam dianggap tidak demokratis. Jika Islam yang dimaksud seperti yang dipahami kebanyakan orang Islam yang anti syari’at Islam, atau menerima sebagian dan menolak sebagian dari ajaran Islam, mungkin dapat diselaraskan dengan demokrasi. Tetapi jika Islam yang dimaksud seperti yang diwahyukan Allah dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, mustahil bisa dicocok-cocokkan. Sebab Islam berdiri tegak di atas landasan Tauhid, sedang demokrasi berdiri tegak di atas landasan hawa nafsu. Islam memiliki sumber hukum (Qur’an dan Hadits),sedang demokrasi sumber hukumnya ‘kemauan orang banyak’. Islam mengharamkan daging babi, khamer, pelacuran, perjudian, ekonomi ribawi, sedang demokrasi menganggap kemaksiatan dan kemungkaran sebagai fasilitas hidup.
Barangkali benar, bila dalam menjalani kehidupan ini seorang Muslim tidak memiliki ukuran atau barometer ideologis yang jelas, sikap dan pernyataannya kerapkali kontraproduktif. Seperti ucapan Prof. Dr.Yusril Ihza Mahendra (Ketua Majelis Syuro PBB), pada Ahad, 16 Shafar 1431 H/ 31 Januari 2010 M, dalam suatu dialog dengan penulis, di hadapan Musywil Partai Bulan Bintang, Jawa Timur, Surabaya. “Demokrasi tergantung ta’rif mana yang digunakan, karena makna demokrasi itu banyak, tidak tunggal. Perbedaan amal demokrasi atau amal Islami, mungkin saja dirasakan oleh mereka yang bergelut di bidang teori, tapi bagi yang bergelut secara praktis dan pengambil keputusan, tidak merasakan adanya konflik ideologi seperti itu. Apakah ini amal Islami atau aktivitas demokrasi, bagi saya sama saja,” tegasnya.
Pertanyaannya, jika ta’rif demokrasi tidak tunggal, lalu umat Islam harus mengidentifikasikan diri pada makna demokrasi yang mana, sehingga tidak melanggar syari’at Islam? Kaitannya dengan kebingungan memilih dan memilah ‘yang ini amal demokrasi’ atau ‘yang itu amal Islami’, sebenarnya tidak sulit.
Mereka yang sedikit memahami ushul fiqh, dapat mengetahuinya melalui kaidah ushuliyah. Dalam teori ushul fiqih, Imam Syafi’i membuat kategorisasi amal yang disebut “ Anwa’u af’alin Nabiyyi , yaitu af’alun (perbuatan) Nabi, sebagai barometer amal dibagi tiga bagian:
1.      Pertama, amal yang bersifat Qurbah, seperti tuntunan ibadah dari Nabi yang tidak boleh di rubah
2.      Kedua , Tho’ah , kehidupan kemanusiaan, yang dibatasi dengan hokum wajib, sunnah, dan mubah. Contoh, mandi junub. Mandinya sendiri tanpa diatur agama, kita sudah biasa mandi, dilakukan oleh orang kafir maupun Muslim. Bedanya, mandi junub bagi orang Islam adalah mandi yang dilakukan setelah berhubungan seksual dengan istri, perempuan datang haid atau nifas. Agama yang dibawa Nabi Muhammad menjelaskan itu, maka kita mesti Tho’ah.
3.      Ketiga , bersifat Jibillah, perbuatan Nabi yang bersifat naluriah. Dalam hal perbuatan yang bersifat jibillah prinsipnya adalah mubah, kecuali ada larangan.
Jadi, tidak perlu bingung, apalagi melakukan sinkretisasi ideologi. Dengan kategorisasi ini, dimaksudkan agar seorang Muslim dalam menerima atau menolak sesuatu, bukan karena sesuai atau bertentangan dengan demokrasi; melainkan selaras dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.
Ketakutan kelompok liberal akan bahaya menguatnya kekuatan Islam yang dianggap sebagai ancaman bagi masa depan pluralism di Indonesia terus diopinikan dengan resonansi yang kian masif. Sebuah forum yang menyebut dirinya “Konferensi Nasional Lintas Agama” atau Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang dihadiri oleh sekitar 80 peserta ‘tokoh lintas agama dan kepercayaan’ dari berbagai daerah, dan menolak Perda yang bernuansa Syariat Islam, memutuskan akan mendesak Pemerintah untuk mencabutnya. “Kami akan sampaikan kepada presiden dan wapres yang baru terpilih agar perda-perda dievaluasi dan bisa masuk ke MK (Mahkamah Konstitusi) atau Mahkamah Agung (MA) untuk dilakukan judicial review”, ujar ketua forum yang ternyata seorang Doktor Agama Islam dan PNS di Departemen Agama RI.” (Harian Surya, Rabu 7/10/09).
Apa yang disebut Perda Syariah itu? Yaitu, adanya daerah-wilayah di Republik Indonesia ini, di mana para pejabat legislatif yang beragama Islam membuat kesepakatan untuk menggolkan suatu Perda (Peraturan Daerah) yang diinspirasi ajaran agamanya, yakni Syariat Islam terkait pengelolaan wilayah,(seperti menolak perjudian, pelacuran, korupsi, dan kemasiatan lain sesuai tuntunan agama yang dipeluknya). Mereka menggunakan mekanisme yang sudah sejalan dengan proses pembuatan sebuah perda, termasuk, tentu saja rapat-rapat di DPRD dengan pihak lain, lalu mereka berhasil menggolkan Perda tersebut.
Apa yang salah dengan Perda seperti itu? Sebuah acara “Nurcholis Madjid Memorial Lecture III” yang digelar di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/09), mengundang Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, untuk menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Politik Identitas dan Masa Depan Plularisme di Indonesia.” Dalam orasinya, Syafii Maarif yang dikenal sebagai kontributor liberalisme menyinggung soal gerakan-gerakan Islam seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kerap mengampanyekan penegakan syari’at Islam dan khilafah Islamiyah. Syafii menyatakan, “sikap MMI yang menyatakan bahwa penolakan syari’at Islam secara konsititusional termasuk kategori kafir, fasik, dan zalim, adalah pernyataan yang berbahaya bagi pluralisme. Kalau beragama secara hitam putih, mungkin lebih baik saya jadi atheis saja,” tegasnya. Dengan menggunakan retorika agitatif, Maarif menganggap bahwa tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai beragama hitam putih. Lalu menuduh Majelis Mujahidin (MM) sebagai kelompok takfir (mengafirkan mereka yang menolak formalisasi syari’at Islam). Sekalipun Syafii Maarif tidak akan dapat membuktikan tuduhannya terhadap MM, karena itu bukan sikap MM, tetapi lontaran keji itu sudah menyebar bagai virus yang melahirkan trauma ukhuwah Islamiyah. Majelis Mujahidin tidak pernah merasa paling benar, apalagi mengafirkan Muslim lainnya.
Tetapi tidak membenarkan yang benar adalah kesalahan. Dan tidak mengatakan kafir terhadap mereka yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya, adalah kekafiran juga. Maka sikap MM dalam hal ini sesuai dengan sikap Islam, sebagaimana firman Allah:
“Siapa saja yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah kafir, fasik, dan zalim.” (Qs. Al-Maidah, 5: 44, 45, 47).
Dalam beberapa tahun terakhir ini, Syafii Maarif yang tercatat sebagai anggota dari “Trilateral Commission” sebuah lembaga yang berada di bawah kendali Zionis, memang dikenal sebagai orang yang berada dalam gerbong para penolak formalisasi syariat Islam. Dalam diskusi yang banyak dihadiri para aktivis liberal itu, Syafii dengan kalimat nyinyir mengatakan, “Kalau kita ingin melaksanakan syariat Islam secara utuh itu akan sulit hidup dimana saja. Harusnya kita pakai saja ayat fattaqullah mastatha’tum , bertakwalah kepada Allah semampumu,”ucapnya.
Dengan bangga, Syafii bernostalgia, dulu pada tahun 70-an sebelum dirinya berangkat ke Chicago, Amerika Serikat, dirinya adalah orang yang sangat anti-terhadap Pancasila. “Tetapi setelah dicuci otak oleh Fazlul Rahman (Profesor di Chicago) saya berubah,” ujarnya sambil terkekeh. Syafii mengaku dirinya sedih melihat kondisi bangsa ini, dimana pemerintah tidak serius dalam mengelola negara. Ia juga sedih melihat kelakuan umat Islam yang anti terhadap pluralisme dan berupaya memaksakan kehendak terhadap minoritas. “Kalau tidak sedikit paham Al-Qur’an, mungkin saya malas jadi orang Islam” tandas Syafii. Dalam pandangan Syafii, formalisasi syari’ah Islam menunjukkan prilaku beragama hitam putih.
Untuk melemahkan tuntutan penegakan syariat Islam, Syafii melakukan manipulasi sejarah, dan menggiring pemahaman Islam ke arah paham sesat dan menyesatkan. Belum lama ini Haedar Nasir menulis buku dan dibedah bersama Syafii Maarif, untuk menghantam Islam syari’at di Indonesia. “Gerakan syari’at berangkat dari daerah-daerah menuju ke pusat. Gerakan ini mengganggu gerakan islam liberal, karena itu gerakan islam moderat perlu mengantisipasi.”
Apa yang hendak diantisipaisi dari perjuangan Syari’at Islam?
Apakah mereka punya kitab suci dan nabi yang mengajarkan penolakan terhadap syari’ah Islam?
Nabi Allah yang mana yang mendakwahkan Islam tanpa menegakkan syari’ah Allah?
Sikap mereka dan yang sepaham dengannya, merupakan cermin dari tokoh-tokoh munafiq di zaman Nabi, pewaris dari sikap tokoh munafiq Ubay bin Salul.

Wallahu a’lam bis shawab!
(Ukasyah/ arrahmah.com )

Sunday, October 16, 2011

Puisi Pembelajaran

Bila rindu nikmati rindu..hadirkan itu dlm sholatmu..krna itu suatu anugerah yg memberi hidupmu

Temukan cinta itu dlm sujud dan jihadmu

Krna cinta tertinggi adalah pengorbanan
... jgn kau terapkan pd sang Adam
Krna cinta tertinggi adalah pengorbanan
seharusnya sama kau terapkan pada yg memberi kehidupan.


Karena tak smua org dikabulkan.
Walaupun itu ingini mu.

Krna kamu dlm takdir itu.

Thursday, October 13, 2011

LAUH MAHFUZH

Lauh Mahfuzh (Arab: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali diantaranya adalah dalam surah Az-Zukhruf 43: 4, Qaf 50: 4, An-Naml 27: 75 dan lainnya.

[sunting] Sebutan lain dari Lauh Mahfuzh

Nama lain dari Lauh Mahfuzh berdasarkan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
  • Induk Kitab (أم الكتاب, Ummu al-Kitab),
  • Kitab yang Terpelihara (كِتَابٍ مَّكْنُونٍ , Kitabbim Maknuun).
“ ...pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),...(Al-Waaqi'ah, 56:78) ”
  • Kitab yang Nyata (كِتَابٍ مُّبِينٍ , Kitabbim Mubiin).
“ Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (An Naml, 27:75) ”

[sunting] Gambaran Lauh Mahfuzh

Menurut syariat Islam, Allah telah mencatat segala kejadian-kejadian di dalam Lauh Mahfuzh, dari permulaan zaman sampai akhir zaman. Baik berupa kisah nabi dan rasul, azab yang menimpa suatu kaum, pengetahuan tentang wahyu para nabi dan rasul, tentang penciptaan alam semesta dan lain-lain. Sekalipun jika kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh.
Menurut Tafsir Qurtubi, semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di Luh Mahfuz, bisa saja dihapus/ diubah oleh Allah atau Allah menetapkan sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian yang dapat mengubah takdir yang tertulis dalam Lauh Mahfuz itu hanya doa dan perbuatan baik/ usaha. Nabi Muhammad bersabda: "Tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik".[1]
Lauh Mahfuzh akan kekal selamanya karena ia termasuk makhluk yang abadi, selain Lauh Mahfuzh makhluk abadi ada 'Arsy, surga, neraka dan lain-lain.

[sunting] Para Jin mencuri berita

Allah telah menjadikan Lauh Mahfuzh ini sebagai tempat untuk menyimpan segala rahasia dilangit dan di bumi. Jin dari golongan setan akan berusaha untuk mencuri segala rahasia yang tertulis di dalamnya untuk menipu manusia. Disamping itu, mereka juga memiliki tujuan untuk memainkan aqidah manusia. Sebab itu Allah melarang manusia untuk mengetahui ramalan nasib, karena peramal itu dibantu oleh jin dan jin itu akan membisikkan hasil curian itu kedalam hati peramal. Jika ada setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat penjaga Luh Mahfuzh akan melemparkan bintang ke arah pencuri berita tersebut, pelemparan ini yang kadang-kadang kita lihat dengan adanya bintang jatuh atau meteor.
“ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al Hijr 16 - 18) ”
Tidak banyak diketahui tentang Lauh Mahfuz dan para ulama jarang menjabarkannya dengan detail, karena ia adalah urusan alam ghaib/ rahasia Allah. Dalam Al-Quran pun, Luh Mahfuz di sebut secara sepintas saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sebagai contohnya dalam satu peristiwa yang amat bersejarah, ahli tafsir menyatakan Luh Mahfuz disebut berkaitan dengan Nuzul Al-Quran dari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah (langit dunia) secara sekaligus yang terjadi dalam bulan Ramadhan.

[sunting] Tulisan pertama di Lauh Mahfuz

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Ketika Allah menciptakan qolam, kemudian lauh, Allah memerintahkan qolam untuk mendatangi lauh.
Allah berfirman kepada qolam, “Wahai qolam”.
Qolam menjawab, “Aku sambut panggilan-Mu dan aku siap menerima perintah-Mu Ya Robbi”
Allah memberi perintah, “Tulislah pertama kali Bismillaahir rohmaanir rohiimi”.
Ketika qolam menulis “ba” keluarlah darinya cahaya yang menyinari segala sesuatu di malakut dari mulai ‘arsy sampai bumi. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi ! Apakah “ba” ini ?”
Allah menjawab, “Ba ini adalah bariun liummati Muhammadin (pembebas untuk umat Muhammad)”
Allah memerintahkan pula qolam menulis “sin”.
Ketika qolam menulisnya, keluarlah dari lekukan-lekukannya beberapa cahaya. Cahaya yang satu memancar ke ‘arsy, yang satu ke kursi dan yang satu ke surga. Ketika qolam melihat ketiga cahaya ini, ia bertanya, “Ilahi, Apakah cahaya-cahaya ini ?”
Allah menjawab, “Ini adalah cahaya umat Muhammad ‘alahissolatu wassalam. Adapun cahaya yang memancar ke ‘arsy adalah cahaya al-sabiqin, cahaya yang memancar ke kursi adalah cahaya al-muqtasidin dan cahaya yang memancar ke surga adalah cahaya al-‘asin dan az-zolimin di antara mereka”.
Allah memerintahkan pula Qolam menulis “mim”.
Ketika qolam menulisnya, keluarlah darinya cahaya yang lebih terang dan lebih bersinar dari cahaya “ba” dan “sin” sehingga menyinari segala se-suatu dari ‘arsy sampai bumi. Terdiamlah qolam dalam ketakjuban seribu tahun. Setelah itu bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah cahaya ini ?”
Allah menjawab, ”Ini adalah Nur Muhammad ‘alaihissolatu wassalam. Dia adalah kekasih-Ku, pilihan-Ku dan rosul-Ku. Ini Sayyid seluruh nabi dan rosul. Dan tidak Aku ciptakan segala sesuatu, kecuali karenanya”.
Ketika Qolam mendengarnya maka berkeinginanlah untuk menyampaikan salam pada Nur Muhammad ‘alahissolatu wassalamu, kemudian meminta idzin melakukannya. Kemudian berkatalah qolam, “Assalamu ‘alaika (salam bagimu) wahai Rosulalloh – wahai Habiballoh dan wahai Nurolloh.
Allah berfirman, “Wahai qolam ! engkau telah menyampaikan salam kepada kekasih dan rosul-Ku padahal ia saat ini tidak ada, sedangkan apabila ia hadir pastilah ia akan menjawab salammu, karena itu Aku jawab padamu karenanya. Bagimu salam dari-Ku wahai qolam”.
Allah memerintahkan qolam menulis Allah Ar-Rohman Ar-Rohim. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah nama-nama ini bagi-Mu ?”
Allah Yang Maha Tinggi menjawab, “Aku – Allah – untuk as-sabiqin, Aku – Ar-Rohman – untuk al-muqtasidin dan Aku – Ar-Rohim – untuk al-‘asin dan az-zolimin”.
Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa As-Sabiqin adalah orang yang kebaikannya amat banyak – jauh melebihi keburukannya. Al-Muqtasidin adalah orang yang kebaikan dan keburukannya berbanding. Al-‘Asin adalah orang yang keburukannya jauh melebihi kebaikan yang dilakukan.

[sunting] Referensi

  1. ^ Hadits riwayat Tirmidzi

[sunting] Pranala luar

Sunday, October 2, 2011

TAKDIR


Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.1)
Takdir dalam agama Islam
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

Dimensi ketuhanan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
  • Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2)
  • Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70)
  • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al Maa'idah / QS. 5:17)
  • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An'am / QS 6:149)
  • Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96)
  • Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat.

[sunting] Dimensi kemanusiaan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
  • Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Ar Ra'd / QS. 13:11)
  • (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al Mulk / QS. 67:2)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (Al-Baqarah / QS. 2:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (Al Kahfi / QS. 18:29)

[sunting] Implikasi Iman kepada Takdir

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.

PUISI tentang TAKDIR adalah PILIHAN


TAKDIR ADALAH PILIHAN
  (Takdir Bukanlah Pemerkosaan =ALLAH tidaklah menganiaya makluknya)

Berbagai jalan yang kita tempuh
Berbagi pilihan yang kita ambil
Pada akhirnya tanpa kita sadari
kita sedang berjalan dijalanNYA yaitu
Di jalan takdirNYA
kita sedang berada dijembatanNYA , jembatan perubahan yaitu di jembatan takdirNYA
kita sedang berada dipintuNYA ,  pintu maaf,  pintu kematian yaitu di Pintu takdir NYA
Dan Takdir adalah
Ibarat sebuah frame film
Sistem Hidup bernegara bagaimanakah yang kalian Pilih ?
Sekenario apa yang ingin kalian ambil ?
Cerita apa yang kalian sukai ?
Tokoh apa yang ingin Kau perankan ?
Dan Akhir Cerita apa yang kalian sukai ?
Pada Akhirnya ..................... !!!
Semua dalam gengamanNYA .............. !!!
DIA Sutradara NYA .......... !!!
Dan Ingatlah ALLAH tidaklah menganiaya hambanya...dalam TAKDIR ITU
Begitu juga dengan takdir yang kalian PILIH
ALLAH sudah menuliskan takdir itu, ada baik dan buruk.

Wahai,Nasehat .........!
Pilihlah, Pilihan yang terbaik untuk dirimu sendiri?
Seperti yang Maha Pencipta MU, memfirmankan dan mewahyukan yaitu.
Memilihkan Sistem Hidup untuk MU
Memilihkan Takdir Hidup Untuk MU
Memilihkan Frame Film Untuk MU (ada Roll Film,Klise Film yang diputar)
Memilihkan Sekenario Untuk MU
Memilihkan Cerita untuk MU
Dan Memilihkan Akhir Cerita untuk MU

Doa’ ku
Ya, Robbi
Limpahkanlah kesejahteraan dan Barokah MU
Kepada Junjungan kami  Nabi Besar Muhammad SAW
Beserta keluarganya dan Sahabat-sahabatnya
Muslimin dan Muslimat
Ya, Robbi
Jadikanlah Negeriku Bersyariaat seperti yang ENGKAU Ridhoi
Seperti Mereka yang telah kau berikan Nikmat dan Karunia
Seperti Takdir yang kau Pilihkan untuk Umat Muhammad MU
seperti  yang kau Wahyukan dalam Firman MU
Seperti yang kau Framekan dalam Al-QURAN MU
Seperti yang kau Ajarkan pada Nabi Muhammad MU

Dan Bukannya Jalan bagi mereka yang telah ENGKAU murkai dan dalam keadaan tersesat
yang tidak menghiraukan memilih Jalan yang ENGKAU firmankan,
yang tidak menghiraukan memilih Sekenario yang ENGKAU firmankan ,
yang tidak menghiraukan memilih Frame Film yang ENGKAU firmankan, 
yang tidak menghiraukan memilih Cerita yang ENGKAU firmankan,
yang tidak menghiraukan memilih Sistem Tuntunan Hidup yang ENGKAU firmankan,

Ya, ALLAH.... ya, ROBBI
Maafkanlah atas segala dosa-dosa kami
Dan Karena ketidak tahuan kami
Yang Lebih Memilih TAKDIR Memetik  dan Memakan Buah yang Engkau Larang (DARI CERITA NABI ADAM) PADAHAL KAU TELAH MEMBERIKAN PILIHAN TAKDIR-TAKDIR YANG LAIN

Lantaran Bujuk Rayu Makhluk yang ENGKAU murkai
Amin .................................................


by:tango70

Anti terhadap Jihad adalah Virus Kufur dan Nifaq

لايؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
"Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga nafsunya mengikuti apa yang apa yang aku bawa"(HR MUttafaqun 'alaih)


Oleh : Abu Asybal Usamah
Segala puji bagi Allah ‘Azza wajalla, Yang menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, Yang memegang ubun-ubun mereka. Tiada kekuatan di alam ini yang mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali atas izin-Nya. Shalawat dan salam senantiasa mengiringi ingatan kita, agar lidah senantiasa basah dengannya, teruntuk bagi junjungan mulia, Muhammad bin Abdullah, istri-istri, keluarganya, para sahabat dan orang-orang yang teguh berjuang menegakkan Dinullah.
Kecintaan terhadap kalimat Allah, kaum mukminin dan din-Nya adalah merupakan salah satu dari syarat kalimat Laa ilaaha illallah. Allah Ta’ala berfirman :
و من الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله و الذين آمنوا أشد حبا لله
“Dan sebagian manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, mereka mencintainya sebagaimana cinta mereka kepda Allah, sedangkan orang beriman sangat cinta kepada Allah”(Qs Al-Baqarah 165)
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
”Ada tiga perkara jika ada pada diri seseorang , ia akan mendapatkan manisnya iman. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalany, mencintai seseorang karena Allah dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka setelah diselamatkan darinya”(HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, jika kita menginginkan iman kita sehat, tidak dikotori dengan hal-hal yang dapat membinasakan iman kita, maka kita mesti mencintai syariat Allah ‘Azza wajalla. Dan menghilangkan rasa benci terhadap syari’at Allah ‘Azza wajalla. Allah Ta’ala berfirman:
ذلك بأنهم كرهوا ما انزل الله فأحبط أعمالهم
“Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah hapuskan amalan mereka”(Qs Muhammad 9)
Ayat diatas menunjukkan bahwa kebencian terhadap apa yang diturunkan oleh Allah adalah merupakan bentuk dari kekufuran atau nifaq. Sebagaimana orang – orang munafiq terdahulu (dan disetiap zaman) amat benci dengan para sahabat dan juga syari’at yang menjadi system yang mengatur madinah dibawah pengawasan Rasulullah SAW. Maka, kejernihan Tauhid seseorang dan kebenaran imannya (shidqul iman) adalah salah satunya mencintai syari’at Allah Subhanahu wata’ala. Allah Jalla fi ‘Ula berfirman tentang orang yang Ia tetapkan Iman kepada mereka:
“Akan tetapi Allah menjadikan kalian cinta pada iman dan mengiasinya dihati kalian. Dan Ia juga menjadilkan kalian benci terhadap kekufuran, kefaiskan dan maksiat”(Qs Al-Hujurat 7)
Benci terhadap jihad adalah ciri kemunafikan Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa benci terhadap syari’at Allah adalah suatu kekufuran dan nifaq yang menghapus Iman dari dada. Bagaimana tidak, sedangkan Jihad adalah puncak dari ubudiyyah seorang hamba kepada Rabbnya. Puncak dari syari’at Islam yang mengayomi syari’at-syari'at lain dan yang mebentengi Dinul Islam dari rongrongan musuh-musuhnya. Agar kalimat Allah tetap berkibar. Maka, Jihad adalah jalan yang membedakan antara orang yang imannya benar dan dusta. Apabila imannya dusta maka dia akan meninggalkan jihad dengan alas an apapun. Sedangkan orang yang teguh imannya, ia akan senantiasa berusaha terus untuk bias ikut andil dalam Jihad fisabilillah. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan dan menyingkap sifat menuafiqin:
“Sesungguhnya yang akan meminta izin (meniggalkan jihad) kepadamu (wahai Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati hati mereka ragu-ragu karena itu mereka selalu bmbang dalam keragu-raguan”(Qs At-Taubah 45)
Sedangkan ayat sebelumnya Allah menegaskan bagaimana sifat orang-orang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla.
“Orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu (wahai Muhammad) untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa ”(Qs At-Taubah 44)
...benci terhadap jihad adalah ciri kemunafikan Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa benci terhadap syari’at Allah adalah suatu kekufuran dan nifaq yang menghapus Iman dari dada...
Allah secara jelas dan gamblang menempatkan sifat keimanan digandengkan dengan Jihad yaitu orang berjihad adalah mereka yang memiliki keimanan. Karena orang beriman tau hakekat jihad dan kedudukakannya, harga surga yang begitu mahal yang hanya bisa dibayar dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan dinullah. Dunia tak berharga baginya, tidak ada yang berharga didalamnya kecuali sesuatu yang diperuntukkan untuk-Nya.
Bahkan salafushshalih, teladan dari ummat, mersa sangat sedih ketika tidak bias berangkat ke medan jihad, menemani Rasulullah merasakan debu yang menjadi saksi dihari kiamat nanti atas perjuangan mereka membela agama Allah, meskipun mereka berhalangan dan uzur. Allah menggambarkan ghirah mereka dalam Al-qur’an:
“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka dating kepadamu, supaya kamu memberikan kendaraan, lalu kamu mengatakan: “Aku tidak memperoleh kendaraan umtuk membawamu”. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran airmata karena sedih, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan”(Qs At-Taubah 92)
“Apakah kalian mengira akan masuk surge sedangkan belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata-nyata sabar”(Qs Ali ‘Imran 142)
“Wahai orang-orang beriman, apakakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu:”berangkatlah (untuk berperang) dijalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti dari akhirat? Padahal keni’matan dunia itu hanya sedikit dibandingkan dengan akhirat ”(Qs At-Taubah 38)
...Karena orang beriman tau hakekat jihad dan kedudukakannya, harga surga yang begitu mahal yang hanya bisa dibayar dengan pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan dinullah...
Tidak berniat jihad terancam menjadi munafiq
Setelah kita melihat bahwa pemaparan diatas bahwa benci terhdap jihd merupakan sesuatu kufuran dan karakter orang munafiqn, maka kita akan lebih terperangah lagi dihapan wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyatakan bahwa orang yang tidak meniatkan untuk berperang membela agama Allah Subhanahu wata’ala. Al-‘Allamah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menukil hadits tentang niat berjihad dalam karya beliau, Bulughul Maram min jam’il adillatil ahkam, diurutan pertama dalam kitab jihad.
“Barangsiapa yang mati sedang ia tidak berperang dan tidak tidak terbetik didalam hatinya untuk berperang, maka ia mati di atas cabang kemunafikan”(HR Muslim)
Bagaimana dia tidak divonis mati diatas cabang kemunafiqan, sedangkan Islam dia biarkan tanpa ada ghirah dihatinya untuk menjada agama Allah ini dan juga kehormatan kaum muslimin, karena hatinya telah condong kepada dunia dan juga perhiasanya. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu takut kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”(Qs At-Taubah 24)
Ketika virus anti jihad menjangkiti ummat
Jika kita mencermati fenomena yang terjadi sekarang, maka kita akan merasakan bahwasanya virus-virus kekufuran dan kemunafiqan ini amat begitu merongrong ummat. Ia tidak memilih-milih siapa yang ia hinggapi. Layaknya penyakit. Ia akan menyerang orang yang jahil, ‘alim, professor, doctor, tukang becak, penjual Koran, wartawan, guru dan siapapun dia. Kalau penyakit fisik masih bias diobati dan bisa ditemukan obatnya.
Tapi kalau terjangkiti virus ini, ia akan sulit keluar kecuali dengan hidayah oleh Allah. Penyakit anti terhadap jihad ini begitu menggerogoti masyarakat muslim. Padahal ia adalah benteng Dinul Islam. Harusnya ummat islam menjadi polisi ndunia yang menjaga perdamaian dibawah naungan Islam.
Tapi mengapa Jihad ini menjadi sesuatu yang dibenci. namun kalau kita berkaca kepada sejarah ummat Islam dan Al-Qur’an, maka kita tidak akan heran. Karena orang-orang munafiq dahulu juga sangat anti dengan jihad. Akan tetapi kaum munafiqin dahulu sempat ikut andil dalam jihad. Namun lebih sering mereka meninggalkan jihad. Dengan berbagai alas an mereka datng memohon-mohon kepada Rasulullah untuk dimintakan ampun kepada Allah.
“Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridho kepada mereka. Tapi jikalau kamu ridho kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridho dengan orang-orang fasik”(Qs At-taubah 96)
“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada mereka): “Berimanlah kalian kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya, niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “biarkanlah kami bersama orang-orang yang duduk”. Mereka rela bersama orang yang tidak berperang, dan dikuncilah hati mereka, maka mereka tidak paham (kebahagian beriman dan berjihad)”(Qs At-taubah 86-87)
Begitu banyak karya dan gelar mereka, begitu lihai mereka berorasi. Namun mereka telah dicap oleh Al-Qur’an sebagai orang yang tidak paham. Karena mereka merasa mereka tidak melakukan sesuatu yang berdosa. Apalagi sekarang. Jangankan tidak merasa berdosa, bahkan mereka sekrang merasa benar tidak berjihad, menunaikan fardhu, karena menganggap bahwa makna jihad luas dan bisa memasuki berbagai segmen, dan parahnya menyalahkan serta “menyesat-nyesatkan’ mereka yang telah menegakkan fardhu Jihad fisabilillah dengan jiwa, lisan dan harta mereka.
Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan tentang kondisi orang-orang yang imannya jujur di akhir zaman. Dari Abuu Hurairah –Radhiyallahu ‘anhu- bekata, Rasulullah Saw bersabda:
سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة . قيل : و ما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه يتكلم في أمر العامة
"Akan datang kepada manusia tahu-tahun yang menipu, yang mana didalamnya orang dusta dianggap benar, orang benar dianggap dusta, orang yang berkhianat dipercaya, orang yang amanah dianggap khianat dan Orang-orang ruwaibidhah berbicara. Rasulullah ditanya:”siapakah ruwaibidhah itu?” beliau menjawab:”mereka orang dungu yang berbicara berbicara dalam masalah ummat”.(HR Ibnu Majah)
Ya Allah, begitu terasa kalau sekarang dekat dengan kiamat. Mudah-mudahan kita dihindarkan dari virus ini. Dan memantapkan hati kita diatas jalan yang ditempuh oleh sebaik-baik ummat ini.[voa-islam.com

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...