Tuesday, August 16, 2011

Berjalan 50 km Sehari, Demi Tanggung Jawab Keluarga


Kisah inspiratif kita kali ini datang dari seseorang yang begitu sangat sederhana, namun penuh dengan pelajaran yang amat sangat berharga. Seorang kakek berusia 71 tahun, penjual es Dawet keliling yang tinggal di pinggiran kota Surakarta.

Pak Sukimin, nama dari kakek tersebut, seorang pahlawan keluarga yang menginjak usia renta, tapi sama sekali tidak surut semangatnya untuk terus berjuang dan bekerja keras. Tidak kurang dari 50 kilo meter ditempuhnya setiap hari, dengan memikul gerobak es seberat 40 kg, mulai dari jam 5 pagi sampai jam 8 malam. Semua itu terdorong atas kuatnya keinginan bahwa dia menjauhi sifat meminta- minta dan karena pemenuhan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Selama 40 tahun lebih, pekerjaan tersebut telah dilakukannnya. Dan Subhanallah, kerja keras setiap hari itupun ternyata tidak terus membuatnya jauh dari sang maha kuasa. Walau dalam hujan dan panas, ketika mendengar adzan, seketika itu pula pak Sukimin mencari masjid terdekat dan menjalankan sholat berjamaah. Selain itu, cara belajar keikhlasannya yang begitu sangat sederhana, namun menyentuh hati semua orang yang melihatnya adalah dengan penerimaannya atas pembagian rejeki yang diterimanya dari Allah subhanahu wataala.
"Saya pernah waktu sholat, gerobak saya tinggal didepan masjid. Saya sudah pasrahkan sama Allah saja. Tapi ternyata ada orang jahat yang mengambil semua uang yang telah saya dapat seharian. Tapi saya ikhlas kok. Kalau sampai diambil orang berarti itu bukan rejeki saya. Biar untuk dia saja tidak apa- apa, semoga lebih berguna untuk dia." Cerita bapak 5 orang anak ini.

Menurut pak Sukimin, dalam hidup ini manusia mendapatkan peran yang bermacam- macam, namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan, pekerjaan apapun itu adalah untuk mencari ridho Allah. Saja. Dan hal itulah yang meringankan hatinya jika musibah datang menghampiri. " Seringkali ada orang yang beli namun tidak bayar, saya menunggu sampai lama ternyata orangnya tidak membayar. ya saya tidak apa- apa. Kan sudah diminum juga. Sah kok itu untuk dia." lanjutnya. Beliau juga tidak terlalunya sedih saat tubuh rentanya telah lelah memikul gerobak yang sedemikian berat, sehingga kakinya tersandung dan pecahlah semua barang dagangannya. " Lah wong sudah jatuh, mungkin belum rejeki saya. ya nanti kapan- kapan berarti saya diajari Allah disuruh hati- hati lagi". Subhanallah, kemiskinan ternyata tidak menghalangi batinnya untuk menerapkan ilmu ikhlas kepada sesamanya.
Memang, kehidupan ini tidak sempurna dan tidak banyak memberi kesenangan kepada pak Sukimin, namun hal itu juga tidak membuat beliau ragu untuk membagikan ilmunya kepada yang ingin berguru kepadanya. " Rejeki itu sudah diatur sang maha kuasa. Saya ini hanya perantara saja. saya sama sekali tidak takut tersaingi. Malah ilmu yang saya berikan nanti itu, akan menemani saya saat saya mati nanti. saya percaya itu". Sama sekali tidak ada rasa permusuhan ataupun iri dengki dalam ketatnya persaingan dan beratnya hidup. Dalam susahnya mencari rupiah, justru membuat pak Sukimin semakin berbesar hati untuk berbagi. Hal yang sangat jarang untuk bisa dilakukan, bahkan oleh orang kaya sekalipun, jika tidak murni adanya perbuatan itu yang hanya karena Allah.
Kesabarannya dalam menghabiskan jatah hidup detik per detik telah menempanya menjadi seorang manusia yang kuat, tabah dan tidak pengeluh. Hal inilah juga yang menyebabkan beliau tetap bersemangat untuk menjual dagangannya walaupun dalam kondisi cuaca apapun." Kalau lagi hujan, ya saya tidak bisa berteduh, harus tetap jalan. Nanti kasihan ibu nunggu dirumah malah kawatir. Akhirnya saya pakai saja plastik untuk sekedar menutup tubuh agar tidak dingin " Kata Kakek dari 11 cucu tersebut.
Bagi pak sukimin, bukan kemiskinan yang menyakitkan hatinya, tapi saat dia tidak bisa bekerja lagi untuk menyenangkan hati keluarganya, terutama sang istri. Penghasilan yang hanya 30 ribu rupiah sehari, tidak mengurangi kesyukurannya atas jatah rejeki yang telah dibagikan dari sang maha kuasa. " Saya dan istri selalu bersyukur dengan apa yang ada. buat saya yang penting istri dan keluarga senang. Jangan pernah iri dengan yang dimiliki orang lain"
Subhanallah, betapa akan sangat membahagiakan mempunyai ayah, ataupun suami yang bisa menjadi tauladan seperti beliau. Beliau sangat setia kepada keluarga dan setia kepada tanggung jawab pekerjaannya.Keluguan dan kesederhanaan serta keikhlasan yang sangat apa adanya memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Semoga Allah selalu menjaga beliau, sebagai balasan kuatnya penjagaan amanah beliau atas kebahagiaan keluarganya.
Disalin dari (Syahidah/Voa-islam.com) oleh Guru TIK

Monday, August 15, 2011

Yahudi Amerika Temukan Kebenaran Dalam Islam


PHILADELPHIA (Berita SuaraMedia) - Bagi banyak orang, kata 'Islam' memunculkan gambaran kekerasan, bom bunuh diri dan perang suci. Tapi tidak bagi Maryam Kabeer Faye, seorang warga Amerika kelahiran Yahudi. Dia percaya agama yang ia anut setelah perjalanan spiritual yang panjang melambangkan kedamaian, cinta dan ampunan.
Kabeer Faye menggambarkan pengalaman transformatifnya, dari akar Yahudinya menuju Islam Sufi, dalam buku terbarunya, "Journey through Ten Thousand Veils: the Alchemy of Transformation on Sufi Path."
Sejauh yang bisa ia ingat, Maryam Kabeer Faye merindukan pemenuhan spiritual.
Dia dilahirkan tahun 1946 di keluarga Yahudi liberal di Hollywood, California. Walaupun orang tuanya sangat baik dan penuh cinta, mereka bukan orang yang religius, yang membuat Kabeer Faye mengalami kekosongan spiritual.
Di usia 12 tahun, dia diberi perkamen bercat pria kuno dengan kata-kata, "Carilah dan kebenaran akan membebaskanmu." Pesan itu beresonansi dengannya saat dia tumbuh dalam hiruk pikuk iklim politik di tahun 1960an.
Di usia 16 tahun, dia masuk ke Universitas California, Berkeley, kemudian sebuah persemaian aktivisme sosial dan politik. Sementara di sana, dia belajar pengajaran Al-Qur'an, kitab suci Advaita Vedanta - sebuah bentuk filosofi Hindu - dan puisi filsuf abad ke-13 Jalaluddin Rumi.
Dia meninggalkan Berkeley hanya setelah dua tahun, untuk memulai perjalanan spiritualnya untuk menemukan apa yang ia sebut "kebenaran."
"Bukan suatu agama tertentu yang aku cari atau yang aku ketahui," ujar Kabeer Faye. "Aku mencari kebenaran yang membebaskan, darimanapun panggilan itu berasal."
Panggilan itu mengarahkannya ke sebuah tempat yang jauh dari pantai Amerika, termasuk Afrika, Asia, Eropa dan Timur Tengah. Saat itu perjalanan dengan bus melewati padang pasir Afrika ketika ia pertama kali berhadapan dengan agama yang akan menjawab spiritualismenya.
"Bus itu bergerak menuju tengah gurun dan pada saat tertentu panggilan sholat terdengar mendayu-dayu di padang pasir itu - pertama kalinya saya mendengarnya - dan kemudian bus itu berhenti dan semua orang berkulit berwarna keluar dari bus," dia ingat. "Semua orang memiliki sajadah mereka sendiri dan membentangkannya di padang pasir dan sholat. [Itulah] pertama kalinya saya melihat orang sholat dengan cara itu. Dan itu sungguh sangat suci dan indah dan benar-benar mengundang."
Kabeer Faye telah menyaksikan apa yang semua Muslim yang saleh praktekkan lima kali sehari. Mereka meninggalkan aktivitas lainnya, menghadap ke arah kota suci Muslim, Mekkah, dan berlutut dalam ibadah.
Pengalaman itu adalah sebuah panggilan yang akhirnya ia jawab.
"Tak terhitung, tak terhitung banyaknya momen kebangkitan yang mengarahkanku menuju jalan Islam, dan dalam itu, menuju praktik sufisme, atau Tasawuf, yang bagiku secara rumit bersatu dengan Islam," Kabeer Faye menjelaskan.
Sufisme muncul sebagai gerakan terorganisasi setelah kematian Nabi Muhammad SAW, nabi sentral agama Islam. Banyak yang menganggap ini bentuk mistis Islam.
"Ini semacam hiasan cahaya interior dalam praktik Islam, yang menghasilkan yang terbaik di dalamnya. Itu adalah cinta, pengampunan, kebaikan, kebijaksanaan, cahaya," ujar Kabeer Faye. "Dan itulah takdir yang ditandai untukku,  yang diputuskan untukku."
Dia belajar dan bepergian dengan guru Sufi di Israel, Sri Lanka, Senegal dan Gambia, dan juga lebih dekat dengan rumah di Pennsylvania dan Carolina Selatan, untuk memperdalam pemahamannya tentang bentuk khusus dari Islam ini.
"Pengalaman yang aku miliki ini bukan dengan studi abstrak Sufisme di buku-buku - karena kita bisa selalu membaca tentang Sufisme di abad ke-12 - tapi dalam kasusku, takdirku dipandu dari satu guru Sufi ke guru yang lainnya, sampai guruku yang saat ini, yaitu Syekh Harun Rashid Faye dari Senegal, Afrika Barat."
Dari guru inilah Maryam Kabeer mendapat nama belakangnya.
Kabeer Faye mengakui bahwa sementara banyak orang percaya kalau Islam itu agama yang keras, Islam yang ia tahu dan dipeluknya itu adalah agama pengampunan dan belas kasihan.
"Saya tidak bisa menghitung orang-orang yang saya temui yang merupakan orang-orang yang paling murah hati, baik, dan banyak memberi, mencintai, perhatian," dia mengatakan. "Yaitu, memedulikan anak yatim, orang cacat, memperhatikan wanita, memperhatikan aku. Bagaimana saya menjadi Muslim? Karena cinta itu. Bagaimana saya menyalurkannya pada orang lain? Melalui cinta itu."
Siapapun yang mendukung kekerasan atas nama Islam, ujar Kabeer Faye, telah mengubah agama yang sebenarnya.
"Saya belajar dengan meneliti, bahwa bunuh diri dilarang dalam Islam, dan membunuh orang tak bersalah dilarang dalam Islam, dan bahkan menebang pohon dalam pertahanan perang itu dilarang. Jadi kehidupan itu didukung oleh Islam. Oleh karena itu penindasan dan agresi dilarang, sedangkan pengampunan, toleransi, kebaikan dan amal diperintahkan."
Terlahir sebagai Yahudi tapi sekarang Muslim, Maryam Kabeer Faye tinggal di Philadelphia dengan anaknya, Issa.
Selain menghadiri konferensi dan loka karya, Kabeer Faye mengajar bahasa Arab dan studi Islam bagi wanita dan anak perempuan di Amerika Serikat dan di Gambia juga.
Dan, seminggu sekali, dia mengunjungi penjara dimana ia berbicara pada para tahanan tentang kekuatan transformatif keyakinannya.
Sekarang setelah perjalanan pembelajaran spiritual pertamanya telah selesai, dia sudah memulai perjalanan kedua sebagai penulis dan guru untuk berbagi pengetahuan yang dia dapatkan sepanjang pengalaman hidupnya dengan Muslim dan non-Muslim yang serupa. (raz/voa) www.suaramedia.com

Tiap Tahun 20 Ribu Warga Amerika Serikat Menjadi Mualaf



WASHINGTON--Meskipun sentimen anti Islam pasca Tragedi 11 september  terus meningkat di Amerika Serikat, namun tak menyurutkan warganya untuk mengenal -- dan kemudian jatuh hati -- pada Islam.  Menurut laporan TV P, setiap tahun, rata-rata 20 ribu warga As menjadi mualaf.
"Belajar tentang Tuhan dan Pencipta kita telah benar-benar mengilhami saya, dari Malcolm X dan dari apa yang saya baca tentang Islam, saya makin yakin dengan agama ini," kata seorang warga yang baru masuk Islam, Umar Abdul Wahab, kepada wartawan.
Wahab yang sebelumnya seorang Kristen, kini rajin menghadiri kajian Islam di Dar Al Hijrah Islamic Centre di Falls Church, Virginia. "Bagi saya Islam adalah penyerahan total kepada pencipta kita, penyerahan total kepada apa yang ingin kita lakukan, [dan] mengikuti cara Nabi Muhammad," tambah Wahab.
Wahab mengatakan dia masuk Islam setelah menyadari ia telah mengikuti kursus yang berbeda. Namun, ia kemudian merasa "nyambung" dengan hal yang baru ini. "Melepaskan konvensi lama dalam mengejar yang baru, bagaimanapun, bukanlah tugas yang mudah," ujarnya.

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...