Saturday, September 10, 2011

Usamah Berani Deklarasikan Perang Melawan AS

Wawancara Suara Islam dengan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir

Berbagai reaksi muncul atas terbunuhnya pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden. Pro dan Kontra silih berganti menghiasi media cetak maupun elektronik. Namun suara-suara sumbang masih tetap saja mendominasi media-media sekuler tersebut. Sementara itu, pada pihak lain umat Islam tetap menegaskan tekad perjuangan mereka meski bin Laden sudah syahid.

Di Jalur Gaza misalnya, di hadapan para wartawan di Gaza City, Ismail Haniya, pemimpin Hamas mengutuk pembunuhan Osama: "Kami melihat ini sebagai kelanjutan kebijakan politik Amerika yang berdasarkan penekanan dan pertumpahan darah warga muslim serta Arab. Kami mengutuk pembunuhan terhadap seorang mujahid."

Selain itu diberbagai forum internet berbahasa Arab mereka menyatakan tetap menargetkan sasaran terutama terhadap Amerika Serikat dan Presiden Barack Obama. "Allah mengutukmu, Obama" demikian bunyi reaksi pertama dari kelompok-kelompok Islam. Di sebuah situs internet lainnya tertulis bahwa Osama mungkin saja sudah terbunuh, tetapi seruannya untuk berjihad tidak akan pernah padam. Lalu bagaimana pendapat dan pandangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ulama sekaligus Amir Jama’ah Ansharut Tauhid mengenai terbunuhnya Osama bin Laden? Berikut ini wawancara eksklusif Suara Islam dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di balik hotel prodeo Jum’at (13/5/2011).

Suara Islam: Pendapat Ustadz tentang Osama?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyi
r: Osama bin Laden itu kalau saya menilai seorang mujahid yang sangat besar jasanya. Dia memutuskan pengorbanannya diawali dari dirinya sendiri dengan  tenaganya, pikirannya, hartanya. Meskipun Osama seorang hartawan, tapi sanggup hidup sangat sederhana di Afghanistan, jadi membuktikan bahwa Osama itu seorang mujahid besar.

Suara Islam: Selain di bunuh kabarnya jasad Osama dirusak, bagaimana menurut Ustadz?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Kalau sekarang dia sudah dipanggil oleh Allah SWT, Insya Allah dia itu syahid. Dan syahidnya itu sangat mulia, apalagi kalau benar berita tentang wajahnya hancur, itu kehormatan yang sangat besar dari Allah. karena orang kalau mati syahid itu, kalau badannya dirusak oleh orang kafir, itu mendapat kelebihan dihadapan Allah. osama itu wajahnya hancur, apalagi sampai jasadnya dibuang ke laut, itu semua kehormatan dari Allah.

Suara Islam: Ada seruan untuk Obama?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Sebaliknya presidennya AS, Obama, supaya dia segera bertaubat masuk Islam, kalau tidak, kalau dia mati nanti, masuk neraka dia nanti. tapi kalau dia mau taubat, Insya Allah diberi kehormatan oleh Allah. Apalagi kalau mau jadi mujahid, jadi akan ada dua mujahid yang satu kena oleh pelurunya mujahid yang lain. itu obama.

Suara Islam: Mengapa AS begitu memusuhi Osama?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Karena Osama dengan jama’ah nya (al-qaedah) berani mendeklarasikan dan melakukan perang dengan amerika. Jadi Osama dan jama’ahnya itu satu-satunya yang berani mengumumkan perang terhadap AS dan sekutu-sekutunya.

Suara Islam: Apakah perjuangan umat Islam melawan Amerika akan berakhir?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Saya rasa tidak.

Suara Islam: Obama mengatakan bahwa dia tidak memusihi Islam, bagaimana pendapat Ustadz?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Jika Barrack Obama mengatakan AS tidak memusuhi Islam, itu bohong besar. Pasalnya justru AS pemerintahan George W Bush telah mengumandangkan perang melawan terorime adalah perang salib.

Suara Islam: Apakah ini perlawanan terhadap Islam?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Iya, ini adalah perang salib melawan Islam

Suara Islam: Apakah ini pertarungan yang seimbang?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Tentu tidak seimbang sekarang AS lebih kuat, akan tetapi dalam Islam di contohkan dalam perang badar dimana pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan. Artinya walaupun umat Islam sedikit dan musuh dengan persenjataan canggih namun Islam tetap menang. Karena ada Nasrullah dan kaum Muslim istiqomah kepada Allah sedangkan kafir istiqomah kepada senjata-senjata canggih.

Suara Islam: Bagaimana seharusnya umat Islam menghadapi pertarungan ini?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Bersiap, mengatur strategi dan bisa mengukur diri.

Suara Islam: Bagaimana Ustadz melihat orang-orang yang merayakan terbunuhnya Osama?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Kalau yang merayakan orang kafir itu kan biasa, tp jika yang merayakan itu orang yang beragama Islam itu bisa masuk dalam kategori kafir. Karena perang dalam Islam jika orang Islam menguntungkan apalagi membantu memenangkan orang kafir itu sama dengan kafir. Jadi para ulama harus hati-hati dalam menilai terbunuhnya Osama.

Suara Islam: Mengapa pemerintah Indonesia menjadikan Ustadz sebagai Icon terorisme di Indonesia layaknya Osama?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Coba anda lihat pernyataan Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya dalam situs online hidayatullah.com. Dalam situs tersebut, saya dijadikan ikon teroris Indonesia seperti halnya Osama di Amerika. Namun sayangnya pemerintah sulit mencari bukti kasus-kasus yang dikaitkan terhadap saya. Kemudian pengawalan ekstra ketat dengan mengerahkan ribuan aparat serta menggunakan kendaraan baracuda yang berlebihan. Ini semua dalam upaya membangun opini saya layaknya Osama yang harus diwaspadai. Dan Tak menutup kemungkinan upaya penyelesaian kasus saya dilakukan menjelang 2014, karena dengan demikian, akan tercapai kesan bahwa pemerintah sukses mengakhiri masa jabatan dengan baik.

Suara Islam: Mengapa mereka memusuhi Ustadz?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Karena saya melakukan Dakwah Tauhid yang tidak hanya membahas ahlaq antar individu akan tetapi mengaitkan dakwah Tauhid dengan sistem negara. Inilah yang ditakutkan oleh pemerintah. Yang paling penting dalam konteks Indonesia bukan mengganti rezim akan tetapi mengganti seluruh sistem thogut dengan sistem Islam. Bahkan kalau SBY berani mengganti sistem thogut dengan Islam kita dukung.

Suara Islam: Dalam konteks Indonesia jihad seperti apa yang seharusnya dilakukan?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Sesuai kemampuan Jihad sesuai dengan kemampuan, baik dengan pemikiran (dakwah Tauhid yang sesuai Al-qur’an dan Hadits), harta maupun tangan (senjata).

Suara Islam: Bagaimana umat Islam Indonesia pasca syahidnya Osama?

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir:
Meskipun Osama itu mujahid dan besar jasanya, tapi Islam tidak bergantung kepada orang. Jadi wafatnya osama ini, insya Allah disatu pihak ada manfaatnya. tidak harus rugi. jadi kita tidak usah kecil hati dengan kehilangan Osama, meskipun kita boleh susah. kita yakin islam itu pasti menang.

(Jaka Setiawan)

Allahu Akbar!! 80 Ribu Warga Amerika Masuk Islam Setiap Tahun


NEWYORK (voa-islam.com): DR Fadel Sulaiman Direktur Jenderal Yayasan Penjembatan Bagi Pengenalan Islam di Amerika Serikat menegaskan bahwa setiap tahunnya 80 ribu orang di Amerika memeluk Islam.

Pernyataan ini muncul dalam wawancara televisi di Saluran Budaya Nil, Fadel mengatakan: "Angka-angka ini didokumentasikan di pusat-pusat Islam di Amerika dan masjid-masjid Amerika,sebagaimana juga didokumentasikan oleh pusat-pusat studi resmi Amerika namun tidak diekspos, Sulaiman berkata: Tidak berjalan satu minggu saja melainkan ada beberapa orang Amerika yang memeluk Islam.

Dia menambahkan: Ada sambutan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk Islam di Amerika.

Mantan Ketua DPR Amerika beberapa hari yang lalu telah memperingatkan adanya serangan budaya Islam yang luas terhadap budaya dan peradaban Amerika.

Permusuhan yang meningkat:

Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya permusuhan terhadap Islam dari beberapa kelompok masyarakat Amerika yang dipengaruhi oleh ide-ide ekstrim kanan.

Permusuhan ini telah berkembang setelah pengumuman pembangunan pusat Islam di lokasi serangan 11 September dan persetujuan Presiden Amerika atas keputusan ini.

Kebanyakan kaum Muslimin di Amerika menampakkan ketakutan akan adanya penyerangan terhadap mereka saat peringatan serangan 11 September tahun ini karena bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.
Disalin dari (ar/islammemo) oleh guru TIK

Wednesday, September 7, 2011

Penjelasan Mengenai Larangan Melakukan Perjalanan Jauh Untuk Ngalap Berkah dan Ziarah dari Kitab Aunul Ma'bud

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah telah bersabda :
((لا تُشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد)) رواه البخاري ومسلم، وفي رواية عند مسلم ((لا تشدوا))
Artinya:” tidaklah  suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan Pada Riwayat lain “Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar)”

Namun pemahaman hadits ini dipertentangkan oleh para Ulama. Kita memang harus memaklumi bahwa setiap ulama yang telah memenuhi syarat untuk Melakukan hal tersebut berhak untuk berfatwa dalam hal ini.
Sebelumnya saya tegaskan bahwa larangan ini berlaku untuk orang yang safar semata-mata dengan tujuan untuk Tabarruk dan atau ziarah, Adapun misalnya orang yang ingin menziarahi kubur nabi shallalahu alaiwi Wasallam, maka Pensyarah Sunan Abu Dawud memberi jalan keluar pada akhir tulisannya tentang syarah hadits ini dengan mengatakan:
“Ketahuilah bahwasanya ziarah kekubur nabi Shallallahu alaiwi Wasallam termasuk ketaatan yang paling mulia dan kesunnahan yang paling utama, Namun hendaknya seorang yang ingin bersafar untuk berniat menziarahi Masjid Nabawi baru kemudian mengunjungi Kubur Nabi shallallahu Alaihi Wasallam dan bershalawat kepadanya.
Ya Allah berilah kami anugrah untuk menziarahi masjid nabawi dan Kubur nabi Shallahu Alaihi Wasallam. Amin”

Anehnya, Ibnu Taimiyah kerap dipersalahkan sebagai Orang yang menyendiri dalam memahami hadits ini dan dianggap menyimpang bahkan dipenjarakan karena mentafsirkan hadits ini sesuai dengan hasil Ijtihadnya.
Tulisan ini  merupakan Salinan pendapat ulama yang mentafsirkan hadits ini tanpa sedikitpun menyebut nama Ibnu Taimiyah namun pendapatnya sama dengan beliau. Hal ini sengaja saya lakukan agar kaum Muslimin mengetahui bahwa keharaman melakukan Safar  untuk berziarah telah diharamkan oleh banyak Ulama selain Ibnu Taimiyah.

Kali ini saya akan menyalin syarah hadits ini dari Syarah Abu Dawud oleh Al Allamah Muhammad Syaroful haq Al Adzim Abadi.[1]

Al Khottobi berkata :
Hadits ini berlaku jika seorang menadzarkan untuk melakukan Sholat di mesjid tertentu, kalau ia ingin menunaikan Nadzar tersebut maka hendaklah ia menunaikannya, kalau tidak maka ia boleh sholat dimasjid lain. Berbeda dengan nadzar untuk Sholat disalah satu dari 3 masjid tersebut, penunaian Nadzar tersebut adalah kewajiban sesuai dengan yang ia Nadzarkan. Masjid-masjid tersebut dikhususkan karena merupakan msjid para nabi-sholawat dan Salam atas mereka- dan kita diperintahkan untuk mengikuti mereka.
Sebagian ahli ilmu berkata:
Tidak sah I’tikaf selain disalah satu dari tiga masjid tersebut. Itulah ta’wil hadits tersebut menurut mereka .
Al Qostholani Berkata:
“Bepergian ke selain tiga masjid diperselisihkan, Seperti ziarah ke tempat orang-orang Sholih, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati (kuburnya), tempat yang utama ngalap berkah disitu. Abu Muhammad al Juwaini berkata: “Diharamkan berdasarkan Dzohir Hadits.” Pendapat ini Disetujui oleh Qadhi Husein, Qadhi Iyadh dan Sejumlah Ulama. Namun menurut Imam Haramain dan Sebagian Ulama dari kalangan Syafiiyah, hal itu diperbolehkan. Sementara yang lain mengatakan bahwa larangan itu hanya khusus bagi yang bertujuan I’tikaf, seperti dipaparkan oleh Khotthobi. Tetapi saya (Al Qostholani,red) memandang pendapat ini tidak berlandaskan Dalil”.
Al Imam Malik meriwayatkan di dalam Muwattho dari Murtsid bin Abdullah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Al Harits At Taimi dari Abi Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dia berkata: Aku menjumpai Bashrah bin Abi Bashrah Al Ghifari,
lalu dia dia berkata        : Dari mana engkau?
Maka aku menjawab    : “dari Bukit Thur”
Dia berkata                  : “ kalau saja aku menjumpaimu sebelum berangkat, niscaya engkau   tidak akan pergi, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:” Tidak boleh bepergian kecuali ke tiga masjid.
Syaikh Agung Abdul Aziz  Ad Dahlawi menjelaskan hadits ini dalam komentarnya terhadap Sohih Bukhari: “yang dikecualikan (Mustasna minhu) yang dibuang pada hadits ini bisa sesuatu yang dekat maupun jauh. Seandainya yang dikecualikan adalah sesuatu yang dekat maka maksud haditsnya adalah: “Tidak boleh bersafar kemasjid-masjid selain tiga masjid”. Oleh karena itu hukum safar ke selain masjid didiamkan.
Seandainya yang dikecualikan adalah sesuatu yang jauh maka maksud haditsnya adalah:”Tidak boleh bersafar keman saja untuk Taqarraub kecuali menuju tiga masjid”. Berdasarkan maksud hadits ini maka safar keselain tiga masjid yang diagungkan tersebut terlarang sesuai dengan dzohir konteks hadits. Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat  abu Hurairah dari basrah Al Ghifari ketika ia kembali dari bukit Thur. Selengkapnya Riwayat ini terdapat dalam Muwattho.
Inilah pendapat yang kuat berdasarkan petunjuk dari hadits Bashrah tersebut.
Syaikh Waliyullah Ad Dahlawi dalam Hujjatullah Al Balighah menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam- tidak diadakan perjalanan jauh (safar) keculai menuju 3 masjid, masjidil haram, masjidil Aqsha, dan masjidku ini-:
“Dahulu orang-orang Jahiliyah pergi ketempat-tempat tertentu yang diagungkan dengan persangkaan mereka sebagai ziarah dan tabarruk namun perbuatan tersebut mengandung penyimpangan dan kerusakan yang tidak samar, maka Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam menganggapnya rusak agar syiar-syiar yang tidak syar’I tidak bercampur dengan yang syar’i dan agar tidak menjadi peluang untuk penyembahan selain Allah.Yang benar menurut pendapat saya adalah bahwa kuburan, tempat ibadah para wali Allah, dan bukit Thur, semua itu sama  terlarangnya.
DARI ELHIJRAH.BLOGER

Monday, September 5, 2011

Sungguh Allah Amat Sayang Kepada Orang Beriman

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang rahmat-Nya senantiasa kita harapkan. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah, Shallallahu 'Alaihi Wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Saudaraku, para pembaca yang mulia!
Jika kita orang beriman, maka yakinlah bahwa Allah amat sayang kepada kita. Dia tak ingin mencelakakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahkan sebaliknya, Dia senantiasa menghendaki kebaikan kepada mereka. Karenanya, Dia perintahkan segala sesuatu yang mendatangkan mashlahat dan kebaikan. Dan Dia larang segala hal yang bisa mendatangkan kerusakan dan kemudharatan terhadap mereka.
Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. Al-Nisa': 29)
Bukti kasih sayang Allah kepada hamba beriman itu dapat kita temui dalam risalah yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." (QS. Al-A'raf: 157)
Saudara seiman yang dirahmati Allah!
Begitu pula yang ada dalam perintah ibadah shiyam. Bukan Allah ingin menyiksa dan meyakini hamba-Nya dalam menjalankannya. Namun, Allah ingin agar hamba tersebut menjadi insan yang mulia dan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Oleh sebab itu Allah sebutkan secara gamblang dalam ayat shiyam, tujuannya agar orang-orang beriman menjadi hamba Allah yang bertakwa; La'allakum Tattaquun (agar kalian menjadi orang yang bertakwa). Dan sesungguhnya surga itu disediakan bagi para hamba Allah yang bertakwa.
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)
Saudaraku yang mulia!
Pada hakikatnya, perjalanan hidup kita di dunia ini adalah perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam perjalan itu, kita berbuat dan berucap. Dan perbuatan serta ucapan kita tadi terhitung sebagai bagian pekerjaan yang kita haturkan kepada-Nya. Selanjutnya Dia akan memberi balasan dari setiap pekerjaan kita. Jika baik, maka balasannya pun baik pula. Sebaliknya, jika buruk, balasannya juga buruk.
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq: 6)
Saudaraku, kaum muslimin yang mulia!
Idealnya, setiap perkataan dan perbuatan kita itu mendatangnya cinta dan ridha Allah Ta'ala. Dan untuk itulah, Dia menciptakan kita dan memenuhi rizki kita.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Al-Dzariyat: 56) dan makna ibadah, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah sebuah nama yang mencakup setiap perkataan dan perbuatan, yang dhahir maupun yang batin, yang dicintai dan diridhai Allah.
Dalam redaksi lain yang disebutkan Al-Qur'an, agar kita melakukan yang terbaik untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Hud: 7 dan al-Mulk: 2)
Namun, kita sebagai manusia yang dibekali nafsu dan syahwat sering lalai. Banyak dari sikap dan tindakan kita yang lebih menuruti dorongannya, daripada memenuhi tujuan di atas. Begitu juga atmosfir di sekitar kita, banyak yang menjauhkan dari nilai takwa. Tontonan yang beredar lebih banyak mengajak untuk hidup materialistik dan kebebasan. Dengan bumbu kemewahan, seolah hidup wah manjadi satu tujuan yang harus diburu dan dicita-citakan. Semua itu menjadi satu sebab yang memalingkan kita dari menapak jalan menuju cinta ridha-Nya.
Kawan dan orang-orang disekitar lebih banyak mempengaruhi kita dalam keburukan, berhura-hura, nongkrong, dan pengaruh-pengaruh lainnya. Semantara kita sebagai makhluk sosial yang butuk pada pergaulan, lebih mudah terpengaruh kepada sesuatu yang negatif dari pada yang positif. Aturan yang berlaku di negeri ini dan yang berjalan di masyarakat juga begitu, jauh dari aroma takwa dan tunduk pada syariat-Nya. Sehingga kemaksiatan terdukung dengan hebat. Sementara ajakan-ajakan takwa dan menerapkan syariat Allah menjadi momok yang harus ditakuti. Semua itu juga tidak lepas dari sikap phobia para penguasa terhadap syariat Allah Ta'ala.
Maka, saudaraku, amat berat kalau harus menanggung tuntutan dan pertanggungjawaban atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Yang penuh kesadaran kita akui, lebih banyak kita kufuri dari yang kita syukuri. Begitu juga dosa, betapa banyak yang sudah kita kumpulkan. Dan sungguh amat berat kalau kita harus disiksa atas setiap dosa-dosa tersebut. Karenanya kita membutuhkan satu kesempatan untuk mengejar ketertinggalan dalam mengumpulkan pahala dan untuk menghapus dosa-dosa. Dan Allah amat sayang kepada kita, Dia berikan kesempatan mendapatkan Ramadhan di tahun ini, 1432 Hijriyah. Supaya kita bisa mengerjar ketertinggalan-ketertinggalan tadi dan menghapus dosa-dosa yang sudah menumpuk tinggi. Oleh sebab itu, satu iming-iming yang disebutkan dalam hadits al-Syarif adalah dilipatgandakannya amal kebaikan di bulan suci yang penuh berkah ini. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي
"Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla  berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnyadan makannya karena Aku’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim)
Ampunan dosa juga menjadi primadona yang ditawarkan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya ampunan dosa yang dijanjikan kepada kita dikarenakan kita adalah makhluk yang banyak berbuat dosa. Sedangkan dosa merupakan sebab datangnya berbagai kesulitan, musibah, bencana duniawi dan ukhrawi. Bukankah Allaha telah berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
"Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Al-Syura: 30)
Jadi pada ringkasnya, syariat puasa Ramadhan yang difardhukan kepada kita, kaum mukminin, selama satu bulan penuh adalah untuk kebaikan kita juga. Puasa itu diwajibkan atas kita karena sayangnya Allah kepada kita, bukan karena Allah dengki kepada kita dari bersenang-senang. Begitu juga seharusnya yang kita yakini dari setiap perintah Allah yang tersebut dalam syariat Islam. Semuanya untuk kebaikan kita, kaum mukminin secara khusus, dan juga untuk kehidupan duniawi bagi manusia secara umum. Karena dengan ditegakkannya syariat Allah, keberkahan yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi akan melimpah. Kemakmuran dan ketentraman akan dirasakan oleh negeri yang menjalankan keimanan dan ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla .
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)
Seorang muslim yang yakin, Allah amat sayang kepada mereka, bahwa apa yang Allah tetapkan bagi mereka dari syariat-Nya adalah untuk kebaikan mereka, pasti tidak akan berkata "No" untuk syariat Islam. Bahkan saat diseru kepadanya ucapannya tidak lain adalah sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami patuh).
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Nuur: 51)
Maka mari kita membenarkan akan mulia dan baiknya syariat Allah, lalu kita tunduk dan patuh kepadanya. Karena apa yang Dia tetapkan bagi kita adalah untuk kebaikan kita yang sesungguhnya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, ALLAH AMAT SAYANG KEPADA KITA, ORANG-ORANG BERIMAN. Wallahu Ta'ala a'lam. [PurWD/voa-islam.coam]

MUI Kecam Densus 88: Jangan Jadikan Al-Qur'an Barang Bukti Terorisme

Jakarta (voa-islam) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras  penanganan tindakan terorisme yang sering menyebut dan menjadikan Al Qur’an sebagai barang bukti terorisme.
“Tidak benar itu, bila Al-Qura’n dijadikan barang bukti terorisme. Untuk dijadikan barang bukti, seharusnya hal-hal yang mengarahkan kepada tindakan terorisme itu sendiri. Semua umat Islam tentu punya Al-Qur’an sebagai kitab sucinya. Yang tidak punya malah diragukan keislamannya. Karena itu, jangan jadikan Al Qur’an sebagai barang bukti. Kalau Al Qur’an dijadikan barang bukti, itu sama saja menyebut  umat Islam terorisme semua. Jadi harus diluruskan,” ungkap KH. Ma’ruf Amin kepada voa-islam.
MUI juga mengingatkan Densus 88 agar proporsional ketika melakukan razia ke rumah yang diduga pelaku tindakan terorisme, terutama saat merazia rumah yang bersangkutan. Jangan buku-buku ajaran Islam yang temui saat berada di TKP, lalu serta merta menyebut sebagai buku yang mengajarkan radikalisme.
“Buku jihad dalam artian apa? Kalau buku-buku jihad yang proporsional tentu tidak masalah. Aparat juga jangan alergi dengan istilah jihad. Kecuali jika pandangan jihad itu dimaknakan secara tidak proporsional yang mengarah pada tindakan radikalisme, maka bisa saja dijadikan barang bukti,” ujar Kiai.
Menurut KH Maruf Amin, jihad yang tidak proporsional harus diluruskan, sehingga tidak bertentangan dengan jihad yang benar. Tegasnya, kita tidak menghilangkan jihad, tapi meluruskan makna jihad.
MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa terkait Terorisme. MUI tegas menyatakan, terorisme itu perbuatan menyimpang, terorisme tidak sama dengan jihad, atau sebaliknya. Karena terorisme dalam Islam hukumnya haram.
MUI juga sudah mendirikan TPT (Tim Penanggulangan Terorisme), dimana KH Ma’ruf Amin sebagai Ketuanya. Tujuan TPT ini didirikan  adalah untuk memberikan arahan tentang pemahaman jihad secara benar, juga dalam rangka deradikalisasi.
“Karena MUI tidak punya cukup dana untuk bergerak, lalu kita serahkan pada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sehingga MUI tidak perlu bergerak. Tapi kemudian, ketika mulai marak lagi peristiwa pengeboman, seperti yang terjadi  di pesantren, lalu ada usulan agar MUI menghidupkan kembali TPT nya. MUI dianggap punya pengaruh dalam meluruskan paham-paham deradikalisasi yang menyimpang.”
Ketika ditanya, apakah kiai melihat ada rekayasa yang dilakukan Densus 88 dalam menangani kasus terorisme? “Wah, saya tidak berani mengatakan ada rekayasa, karena MUI tidak punya data dan bukti soal itu. Menyebut rekayasa tentu harus dibuktikan. Tapi, mungkin saja ada rekayasa, seperti kita mendengar pendapat yang berkembang. Namun, MUI tidak bisa mengatakan itu rekayasa, karena sekali lagi MUI tidak punya data untuk membuktikan adanya rekayasa,” tandas Kiai. Desastian

Intelijen versus Jihad: Terulangnya Rezim Orde Baru?

Oleh: Hanif Abdullah Khan
Redaktur Majalah Online Ansharullah.com
Era Orde Baru yang bengis, kejam dan memasung kebebasan masyarakat akan segera dipraktikkan dalam pemerintahan yang mengaku demokratis dan reformis ini. Dari yang hendak diterapkannya UU intelijen yang kontroversi sampai mengerahkan aparat untuk mengawasi ceramah-ceramah keagamaan yang notabene telah diatur kebebasannya oleh UUD 1945 pasal 29.
Lucu juga bila sampai hal ini terjadi. Aparat sebagai penjaga dan pengayom masyarakat malah bekerja untuk memata-matai rakyatnya dengan tudingan menyebarkan ajaran terorisme.
Bila semua elemen masyarakat jujur, sebenarnya ajaran tauhid, syariat dan jihad adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari Islam. Ketiganya  termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadits yang sampai hari ini belum dihapus oleh Allah SWT. Lain soal kalau pemerintah  akan menghapusnya dari  rujukan tertinggi umat Islam. Mungkin bisa mencegah orang untuk tidak bicara tauhid, syariah dan jihad.
....definisi teroris pasti tidak ke mana-mana, umat Islam menjadi komoditas elite papan atas ini agar proyek atas nama perang melawan teror terus berjalan...
Sinyal untuk memberangus kebebasan berbicara, berekspresi dan mengeluarkan pendapat, mendapat tantangan keras dalam rapat koordinasi penanggulangan terorisme yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2011 oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yang  dihadiri oleh Menkopolhukam, Panglima TNI, Kapolri, Kasad, Wakil Jaksa Agung dan perwakilan dari kepolisian, kejaksaan dan TNI. Padahal definisi teroris tidak jelas dan pasti tidak ke mana-mana, umat Islam menjadi target komoditas elite papan atas ini agar proyek atas nama perang melawan teror terus berjalan.
Menurut Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti dalam pernyataannya yang diterima Tribunnews.com Rabu (27/7/2011), pelibatan unsur-unsur yang bukan dari POLRI adalah ilegal. Menurutnya, hingga kini Pemerintah dan DPR masih belum membuat Undang-Undang Tugas Perbantuan. Bahkan Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) yang mengatur pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme. Di sisi lain, UU Teroris juga masih belum mengatur tentang pelibatan TNI dalam menanggulangi terorisme.
“Imparsial menilai keinginan Pemerintah untuk melibatkan TNI dalam menanggulangi terorisme dengan tanpa secara bersamaan menjelaskan secara lebih lanjut dan rinci tentang tugas dan batasan bagi TNI, justru akan memunculkan terjadinya ketidakseimbangan antara kebutuhan untuk menjaga keamanan di satu sisi dengan keharusan untuk melindungi dan menjamin kebebasan sipil di sisi lain,” ujarnya.
Mengulang Tragedi Penggulingan Soeharto
Pemerintah  ternyata tidak pernah belajar dari sejarah dan mengambil hikmah masa lalu ketika Soeharto dijatuhkan oleh kekuatan rakyat. Pada saat itu adalah puncak dari kejenuhan di mana semua saluran-saluran masyarakat disumbat dan setiap kritik selalu dituduh sebagai subversif. Dan parahnya sekarang bila orang bicara tentang Islam yang berkaitan dengan tauhid, syariah dan jihad adalah teroris, apa bedanya?
Terulangnya sejarah kelam era Ode baru juga dikhawatirkan oleh beberapa elemen yang melakukan diskusi di Bakoel Coffee, Cikini,  Jakarta Pusat dengan thema “RUU Intelijen Ancaman Bagi Demokrasi dan Penegakan HAM.” Mugiyanto selaku ketua IKOHI mengatakan, “Intelijen perlu diatur, karena kalau tidak diatur dikhawatirkan akan sama seperti pada rezim orde baru lalu.” (seruu.com 11/05/2011).
....Intelijen perlu diatur. Kalau tidak diatur dikhawatirkan sama seperti pada rezim orde baru lalu...
Penguasa seharusnya sadar bahwa era memasung kebebasan orang berpendapat, berekspresi dan berkumpul sudah tidak relevan untuk diterapkan. Membungkam pendapat karena berseberangan dengan penguasa sebenarnya adalah terror dalam bentuk lain, bahkan lebih dahsyat karena pada akhirnya penguasa tidak mempunyai kontrol dalam melalukan kebijakan yang berhubungan dengan orang banyak. Ini akan menjadi rezim yang cenderung otoriter dan bengis.
Sungguh ironis bila umat Islam yang mendakwahkan tauhid dianggap tidak memiliki jiwa nasionalisme dan perlu dikaji ulang. Sebab ukuran nasionalisme tidak bisa dilihat dari seberapa banyak melakukan upacara bendera, menyanyikan lagi kebangsaan atau seberapa taatnya kepada Pancasila.
Bagi umat Islam, yang disebut nasionalisme adalah bagaimana umat memberi solusi dari segala permasalahan yang menimpa bangsa Indonesia menurut keyakinan agama yang mereka anut. Bila umat Islam berkeyakinan bahwa hanya dengan bertauhid yang benar, menjalankan syariat Islam dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam sebagai jalan keluar kebuntuan yang mendera Indonesia hari ini, maka tidak bisa serta merta menghakimi mereka sebagai orang yang  tidak Nasionalis.
....Ukuran nasionalisme tak bisa dilihat dari seberapa banyak melakukan upacara bendera dan menyanyikan lagi kebangsaan...
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka” (Qs Al-Ma’idah 66).
Wallahu a’lam.

Yusril Ihza Mahendra: Sistem Buruk,Orang Baik Dipaksa Jadi Orang Jahat

Jakarta (voa-islam) - Maraknya korupsi dan kebencian masyarakat atas tindak pidana tersebut  telah dimanfaatkan rezim yang berkuasa untuk menghancurkan lawan politik pemerintah. Mantan Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra bahkan menyebut tuduhan korupsi, tidak ada bedanya dengan tuduhan subversif yang dikenakan pemerintahan Soeharto pada lawan politiknya ketika itu.
“Orang mudah dianggap musuh dan dicari-cari kesalahannya. Kalau zaman Soekarno, kalau ada orang yang berbeda, dia akan sebut orang itu kontrarevolusi. Kalau zaman Soeharto akan disebut subversif. Kalau zaman sekarang, akan dituduh korupsi,” kata Yusril saat dikunjungi kelompok yang menamakan dirinya “Dewan Penyelamat Negara” di Kantornya di Jakarta, belum lama ini.
Kata Yusril, penegakan pasal subversif pada zaman Soeharto dilaksanakan melalui kopkamtib. Unit itu kini berubah nama. Ia menilai KPK dan Kejaksaan menjadi alat bagi pemerintah untuk menekan pihak yang tak disukai.
“Kalau tidak senang, dia akan cari-cari kesalahannya. Tapi, siapa sih manusia yang tidak pernah salah? Tapi, kalau temannya bersalah, KPK dan Kejaksaan hanya diam saja. Itu yang terjadi sekarang ini,” cetusnya.
Yusril tak memungkiri, praktek suap harus diberantas. Namun, yang mengkwatirkannya, isu korup dijadikan model untuk memukul lawan-lawan politik. Sama halnya ketika Soekarno menggunakan isu kontra revolusi untuk melumpuhkan semua lawan-lawan politiknya. “Orang Masyumi dan Partai Sarikat Indonesia ditangkapi dan ditahan sekian lama tanpa diadili dengan tuduhan kontra revolusi tadi.”
Begitu kontra revolusi hilang, tidak laku lagi, Soeharto menggunakan isu subversif dan cap PKI. Siapa saja bisa dituduh subversif, kopkamtib bisa menahan dan menagkap orang dengan seenaknya.  Zaman Soeharto berakhir, isu subversif dan stigma PKI tidak laku lagi, lalu diciptakan isu KKN yang disertai merubah UU Korupsi dengan begitu kerasnya. Stigma korup pun dipakai rezim sekarang untuk menghantam lawan-lawan politiknya.
“Saya tidak pernah percaya sepenuhnya penanganan kasus korupsi. Sebuah  penelitian yang dilakukan fakultas hukum UI tentang pengadilan tipikor mengungkapkan, dari 100 perkara yang ada, tak satu pun yang bebas, semua dihukum. 80 persen dari keputusan itu, berupa hakim ad hoc. Ini seperti subversi ketika zaman Soeharto dulu,” tandasnya.
Persoalannya kemudian, lanjut Yusril, seseorang bukan lagi salah atau tidak, ada bukti atau tidak ada bukti, ada landasan hukum yang kuat atau tidak. Tapi apakah orang itu akan dijadikan target atau tidak. Ketika orang dijadikan target, maka akan dicari kesalahannya.
“Seorang pejabat itu ketika harus mengambil keputusan, tidak sepenuhnya  100 % benar. Mungkin hanya 95% yang benar, sedangkan lima persennya bisa saja tidak tepat. Nah, kalau seorang pejabat telah dijadikan target, sudah pasti dengan mudah diobok-obok. Jika tidak dijadikan target, ya santai saja.”
Sudah jelas, seseorang yang ada  bukti keterlibatannya dalam kasus korupsi, tapi tidak pernah diperiksa. Tapi ada yang cuma bermodalkan surat keleng, malah diperiksa KPK. Begitu juga, saat Wikileaks mengeluarkan dokumen rahasia soal keterlibatan seorang dalam perkara korupsi, KPK tidak bertindak. Jadi,  persolannya, bukan lagi salah atau tidak, tapi jadi target atau tidak.

SBY Gagal
Itulah sebabnya para tokoh yang tergabung dalam “Dewan Penyelamat Negara” mulai mengkhawatirkan, negara ini akan menjadi negara gagal. Sebuah harian ternama, mengindikasikan, Indeks Prestasi Pemerintah SBY hanya 31 persen. Ini bukti pemerintah telah gagal. Ironisnya masih tetap berkuasa.
“Secara politik, roda pemerintahan semakin tidak jelas pijakannya. Negara ini tak ubahnya negeri antah barantah. Bandingkan dengan Brasil, yang telah keluar dari persoalan utang. Sedangkan pemerintah SBY yang telah memasuki tahun ke delapan, hasilnya tidak jelas,” kata seorang tokoh Dewan Penyelamat Negara.
Diakui Yusril ketika masih menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan HAM. Ia sebetunya ingin  membangun sebuah sistem yang kuat di republik ini. Menurutnya, negara harus diperintah oleh sistem, bukan oleh orang sebenarnya. Kendati, ada hubungan satu sama lain. Jika sistem dibangun kuat, kita bisa mengatasi masalah KKN, seperti yang dihadapi sekarang ini.
Yusril bependapat, dalam sebuah sistem yang baik, orang jahat itu akan dipaksa menjadi orang baik. Tapi sebaliknya dalam sistem yang buruk, orang baik dipaksa menjadi orang jahat. Sebagai contoh, Kalau kita pergi ke Singapura, kita tiba-tiba menjadi baik. Tapi bukan berarti, kita orang baik. Sistem pemerintahan di Singapura lah yang memaksa kita menjadi orang baik.
“Begitu juga, bukan berarti di Jerman tidak ada korup, mentalnya bisa saja sama korup, tapi ketika masuk ke dalam sistem yang kuat dan baik, maka nawaitu untuk korup menjadi tidak bisa terlaksana. Jadi sistem itulah yang menjaga. Adapun tugas negara adalah membangun sistem. Sementara tugas para ulama adalah menjaga moralitas pribadi. Ada kombinasi antara keduanya,” kata Yusril. Desastian

MENDENGAR DAN TIDAK

MENDENGAR DAN TIDAK 2:93 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu ...